Hang Tuah dan Hang Jebat
Keris, senjata yang menjadi inti pertarungan Hang Tuah dan Hang Jebat. Gambar: Zamwan · CC BY-SA 4.0 · sumber
Hang Tuah, Hang Jebat, Hang Kasturi, Hang Lekir, dan Hang Lekiu bersahabat sejak kecil. Mereka tumbuh bersama, belajar silat dari guru yang sama, dan bersama-sama masuk mengabdi di istana Melaka. Di antara kelimanya, Tuah dan Jebat paling dekat, seperti saudara kandung.
Hang Tuah naik menjadi laksamana, orang kepercayaan Sultan. Keris saktinya, Taming Sari, ia peroleh dari duel di Majapahit. Kesetiaannya kepada raja sudah jadi semacam ucapan orang: pantang ia menderhaka.
Kedudukan setinggi itu mengundang iri. Seorang pembesar yang tidak menyukainya menghasut Sultan bahwa Tuah berbuat tidak senonoh dengan seorang perempuan istana. Tuduhan itu tidak diperiksa. Dalam murkanya, Sultan memerintahkan agar Hang Tuah dihukum mati.
Perintah itu sampai ke tangan Bendahara, orang tua yang bijak. Ia tahu Tuah tidak bersalah, dan ia tahu betapa berbahayanya melawan titah. Maka ia mengambil keputusan yang hanya diketahuinya sendiri: Hang Tuah disembunyikan jauh di hulu sungai, sementara kepada Sultan dilaporkan bahwa hukuman sudah dilaksanakan.
Berita itu didengar Hang Jebat. Sahabatnya, yang telah mengabdi seumur hidup, dibunuh tanpa diadili.
Sultan mengangkat Jebat menggantikan Tuah, dan keris Taming Sari pun berpindah ke tangannya. Sultan mengira telah mendapat pengganti yang setia. Ia keliru. Jebat menggunakan kedudukan barunya untuk masuk ke jantung istana, lalu membalas. Ia menguasai balairung, mengacaukan istana, dan tidak ada seorang hulubalang pun yang sanggup menyingkirkannya. Sultan terpaksa mengungsi dari istananya sendiri.
Dalam keadaan terdesak itulah Sultan berkeluh di hadapan Bendahara. Andai saja Tuah masih hidup, hanya dialah yang bisa menghadapi Jebat. Bendahara, dengan hati-hati, mengaku.
Hang Tuah dipanggil pulang dan diampuni. Ia kurus karena lama hidup bersembunyi. Sultan memberinya satu perintah: bunuh Hang Jebat.
Bisa dibayangkan pertemuan itu. Jebat berdiri di atas istana, memegang keris milik sahabatnya, dan melihat ke bawah. Orang yang ia balaskan kematiannya berdiri di sana, hidup.
“Aku membela engkau,” kira-kira begitulah makna perbuatannya. “Dan kini engkau datang untuk membunuhku?”
Tuah menjawab bahwa ia datang atas titah raja. Bagi Tuah, seorang rakyat tidak boleh menderhaka, seburuk apa pun perlakuan yang diterimanya.
Mereka bertarung berhari-hari, dua orang yang tahu semua jurus satu sama lain. Keris Taming Sari membuat Jebat sukar dikalahkan, sampai Tuah berhasil merebutnya dengan tipu daya. Akhirnya Tuah menikam sahabatnya. Menurut hikayat, Jebat yang terluka masih mengamuk beberapa waktu, dan ia mengembuskan napas terakhir di pangkuan sahabat yang telah menikamnya.
Berabad-abad orang Melayu membaca kisah ini, dan berabad-abad pula mereka berdebat. Siapa yang benar? Tuah, yang setia kepada raja yang keliru? Atau Jebat, yang setia kepada sahabat dan melawan ketidakadilan dengan cara yang menumpahkan darah? Hikayat ini tidak menyelesaikan pertanyaan itu untuk pembacanya.
💖 Pesan Moral
- Jangan menghukum sebelum memeriksa. Seluruh tragedi ini berawal dari fitnah yang ditelan mentah-mentah oleh penguasa.
- Kesetiaan perlu ditanya: setia kepada apa? Tuah setia pada raja, Jebat pada sahabat, dan keduanya membayar mahal.
- Keberanian kecil bisa menyelamatkan banyak hal. Sang Bendahara menyimpan seorang yang tak bersalah ketika semua orang hanya menurut.
Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari Hikayat Hang Tuah, sastra Melayu klasik. Dalam Sejarah Melayu, yang melawan raja dan dibunuh Tuah adalah Hang Kasturi.