Penjaga Mercusuar
Mercusuar di tengah badai malam, saat cahayanya paling dibutuhkan. Gambar: Maxime Raynal from France · CC BY 2.0 · sumber
Di sebuah pantai berkarang yang telah menenggelamkan banyak kapal, berdirilah sebuah mercusuar. Penjaganya seorang lelaki yang baik hati. Setiap bulan perahu pemasok datang mengantar minyak, cukup untuk menyalakan lampu besar itu dari senja sampai fajar selama sebulan penuh. Tugasnya sederhana: jangan sampai lampu padam.
Karena jarang ada orang yang datang ke tempat sepi itu, ia senang setiap kali mendapat tamu. Suatu malam yang dingin, seorang perempuan dari desa terdekat mengetuk pintu. Anak-anaknya menggigil, dan ia tidak punya apa-apa lagi untuk menghangatkan rumah. Bolehkah ia meminta sedikit minyak?
Penjaga itu memandang tangki yang masih penuh. Sedikit minyak tentu tidak akan terasa. Ia mengisi kaleng perempuan itu.
Beberapa hari kemudian seorang ayah datang. Rumahnya gelap, sedangkan anaknya harus belajar. Ia hanya butuh minyak untuk lampu kecil. Lalu datang seorang lelaki yang roda gerobaknya macet dan perlu dilumasi, sebab tanpa gerobak itu ia tak bisa bekerja. Penjaga mercusuar tidak tega menolak. Setiap permintaan terdengar masuk akal, setiap orang benar-benar membutuhkan, dan setiap kali ia merasa senang bisa menolong.
Menjelang akhir bulan, ia menyadari minyaknya tinggal sedikit. Ia berhitung dan berharap sisanya masih cukup sampai perahu pemasok datang.
Ternyata tidak. Pada suatu malam yang gelap, nyala lampu besar itu mengecil, berkedip, lalu padam. Ia tak punya setetes pun untuk menyalakannya kembali.
Malam itu laut bergelora. Beberapa kapal yang biasa mengandalkan cahaya mercusuar berlayar tanpa panduan dan menghantam karang. Pagi harinya, puing-puing berserakan di pantai, dan banyak nyawa hilang.
Para pejabat datang memeriksa. Penjaga itu berdiri di hadapan mereka dengan wajah hancur. Ia menceritakan semuanya, tentang perempuan yang kedinginan, ayah dengan lampu kecil, dan lelaki dengan gerobaknya. Dengan suara parau ia meminta maaf.
Pemeriksanya mendengarkan sampai selesai. Mereka tahu orang ini tidak jahat. Namun jawaban mereka singkat dan tak terbantahkan.
“Minyak itu diberikan kepadamu untuk satu tujuan: menjaga lampu ini tetap menyala. Hanya itu.”
💖 Pesan Moral
- Kebaikan pun butuh batas. Tidak ada satu pun permintaan itu yang buruk. Bencana datang dari tumpukan kata “ya” yang tidak pernah dihitung.
- Kenali tugas utamamu. Orang tua, dokter, pengemudi, atau pemimpin masing-masing punya “lampu” yang tidak boleh padam, seberapa pun mendesaknya urusan lain.
- Belajarlah menolak dengan cara yang baik. Penjaga itu sebenarnya bisa membantu mencari jalan lain, misalnya memberi kabar kepada pihak yang berwenang, tanpa mengorbankan lampunya.
Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari perumpamaan lama yang sering dipakai dalam ceramah dan khotbah; penulis aslinya tidak diketahui.