Dhruva, Anak yang Tak Bergeming
Dhruva bertapa di bawah bintangnya, karya Asit Kumar Haldar. Gambar: Author Sister Nivedita and Ananda Kentish Coomaraswamy Illustrator Asit Kumar Haldar · Public domain · sumber
Raja Uttanapada punya dua permaisuri. Suruchi sangat ia cintai, dan darinya lahir seorang putra bernama Uttama. Suniti kurang ia perhatikan, dan darinya lahir Dhruva.
Suatu hari, Dhruva yang berumur lima tahun melihat kakaknya duduk di pangkuan ayah mereka, di atas singgasana. Ia berjalan mendekat dan ingin ikut duduk di sana. Sang raja hanya diam, karena Suruchi ada di dekatnya.
Suruchi memandang anak itu dari atas ke bawah. “Mengapa engkau berharap yang tidak-tidak, Nak? Engkau tidak lahir dari rahimku. Takhta ini hanya pantas bagi anakku. Apa engkau lupa bahwa engkau hanya anak Suniti?”
Ayahnya tidak berkata sepatah pun. Dhruva turun, lalu berlari ke kamar ibunya dengan dada bergemuruh. Suniti memangkunya dan bertanya siapa yang menyakitinya. Mendengar cerita anaknya, mata Suniti basah.
“Suruchi memang berkata benar,” katanya sambil menghela napas. “Jangan bersedih, Nak. Bila kata-katanya masih menyakitimu, tingkatkan saja kebaikanmu. Jadilah saleh dan ramah, dan berbuat baiklah kepada semua makhluk. Keberuntungan turun kepada orang yang rendah hati seperti air mengalir ke tempat yang rendah.”
Dhruva menghapus air matanya. “Ibu, kata-kata itu tak bisa masuk ke hati yang sudah terluka. Biarlah Uttama memiliki takhta dari ayah. Aku akan meraih kedudukan yang dihormati seluruh dunia, yang bahkan ayah pun tidak pernah memilikinya.”
Anak itu lalu keluar dari istana dan berjalan meninggalkan kota. Di hutan terdekat, ia melihat tujuh orang resi duduk di atas kulit rusa. Ia membungkuk memberi hormat.
Para resi, yang di antaranya adalah Marichi, Atri, dan Wasistha, heran melihat seorang pangeran berumur empat atau lima tahun sudah merasa kecewa pada dunia. Setelah mendengar ceritanya, mereka bertanya apa yang ia inginkan.
“Aku tidak menginginkan harta atau kekuasaan,” kata Dhruva. “Aku menginginkan kedudukan yang belum pernah dicapai siapa pun.”
Satu per satu, para resi menjawab bahwa jalan itu hanya ada satu: memuja Wisnu. Mereka mengajarinya cara berdoa dan bermeditasi.
Dhruva berjalan ke Madhuwana, hutan suci di tepi Sungai Yamuna, lalu memulai tapa. Ia berdiri di atas satu kaki, memusatkan pikirannya pada Wisnu. Tapanya begitu dahsyat sehingga menurut kisah itu bumi pun miring ke arah kaki tempatnya berdiri, gunung-gunung berguncang, dan para dewa ikut gelisah.
Mereka mencoba mengganggunya. Satu makhluk mengambil rupa ibunya dan berdiri menangis di hadapannya: “Anakku, hentikan tapa yang berat ini! Engkau baru lima tahun. Ibu tak punya siapa-siapa selain engkau.”
Dhruva tidak melihatnya. Makhluk-makhluk mengerikan datang dengan senjata dan api. Dhruva tetap tak bergeming. Pikirannya telah menyatu dengan Wisnu dan ia tidak melihat apa pun selain itu.
Para dewa akhirnya memohon kepada Wisnu. Wisnu menenangkan mereka, lalu menampakkan diri di hadapan anak itu. “Mintalah anugerah.”
Dhruva membuka matanya. Ia memuji sang dewa, lalu menyampaikan keinginannya: sebuah kedudukan yang melampaui segalanya dan abadi selamanya.
Permintaan itu dikabulkan. Dhruva ditempatkan di langit sebagai Bintang Kutub, yang menjadi poros bagi seluruh bintang dan tak pernah berpindah tempat. Ibunya, Suniti, juga mendapat tempat sebagai bintang terang di dekatnya.
💖 Pesan Moral
- Luka hati bisa menjadi bahan bakar. Dhruva tidak membalas hinaan dengan hinaan. Ia pergi dan membuktikan diri dengan kerja kerasnya.
- Kata-kata orang dewasa membekas lama pada anak. Satu kalimat Suruchi dan satu diam dari sang ayah sudah mengubah seluruh hidup seorang anak.
- Fokus adalah kekuatan. Godaan paling sulit bagi Dhruva datang dalam rupa orang yang paling ia cintai, dan ia tetap teguh pada tujuannya.
Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari Vishnu Purana, Buku I, bab 11–12. Bhagavata Purana memuat versi lain, di mana Resi Narada yang menjadi pembimbingnya.