Gudang Inspirasi Hidup
Inspirasi

Urashima Taro dan Istana di Dasar Laut

2 menit baca

Urashima Taro pulang dari Istana Naga di punggung kura-kura. Gambar: Tsukioka Yoshitoshi (Japan, 1839-1892) · Public domain · sumber

Di sebuah desa nelayan di tepi laut Jepang, hiduplah seorang pemuda bernama Urashima Taro. Ia tinggal bersama ibunya yang sudah tua, dan setiap hari ia melaut untuk menangkap ikan.

Suatu sore, ketika berjalan pulang di pantai, ia melihat sekelompok anak sedang mengganggu seekor kura-kura kecil. Mereka memukulinya dengan tongkat dan menendangnya ke sana kemari. Urashima merasa iba. Ia memberi mereka sedikit uang agar mau melepaskan kura-kura itu, lalu membawanya ke laut dan melepaskannya ke air.

Keesokan harinya, ketika Urashima sedang memancing, seekor kura-kura besar muncul di samping perahunya.

“Terima kasih telah menolongku kemarin,” kata kura-kura itu. “Sang Putri dari Istana Naga di dasar laut ingin bertemu denganmu untuk berterima kasih. Naiklah ke punggungku.”

Urashima naik, dan kura-kura itu membawanya menyelam jauh ke dasar laut. Di sana berdiri Ryugu-jo, istana yang megah dengan atap dari karang dan dinding berkilau seperti mutiara. Putri Otohime menyambutnya dengan hangat. Urashima dijamu dengan pesta, tarian ikan-ikan, dan pemandangan empat musim yang ajaib.

Hari-hari berlalu dengan bahagia. Namun lama-lama Urashima teringat pada ibunya dan desanya. “Aku harus pulang,” katanya kepada sang putri.

Dengan sedih Otohime memberinya sebuah kotak perhiasan kecil yang indah, tamatebako. “Bawalah ini sebagai kenang-kenangan,” katanya. “Tapi berjanjilah, jangan pernah membukanya.”

Kura-kura membawanya kembali ke pantai. Namun desanya terasa asing. Rumahnya sudah tidak ada. Wajah-wajah di jalan tak satu pun ia kenal. Ketika ia bertanya tentang ibunya, seorang kakek tua berkata, “Urashima Taro? Ada cerita lama tentang pemuda bernama itu yang hilang di laut, kira-kira tiga ratus tahun yang lalu.”

Urashima terduduk lemas di pantai. Beberapa hari di istana itu ternyata adalah ratusan tahun di dunia manusia.

Dalam kesedihan dan kebingungan, ia lupa janjinya dan membuka kotak itu. Seketika asap putih mengepul keluar dan menyelimutinya. Rambutnya memutih, kulitnya berkerut, dan punggungnya membungkuk. Dalam sekejap ia menjadi lelaki yang sangat tua.

Ia menatap laut yang tetap sama seperti dulu, sementara semua yang ia cintai telah lama pergi.

💖 Pesan Moral

  • Waktu adalah hal paling berharga yang tidak bisa diulang. Jangan biarkan kesenangan membuat kita lupa pada orang-orang tercinta.
  • Kebaikan kepada makhluk lemah selalu bernilai, seperti yang ditunjukkan Urashima kepada kura-kura.
  • Tepatilah janji, karena ada hal-hal yang tidak bisa dikembalikan setelah dilanggar.

Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari legenda Jepang Urashima Tarō, yang versi awalnya sudah tercatat dalam Nihon Shoki dan Man’yōshū (abad ke-8), dan dikenal luas dalam bentuk dongeng sejak zaman Muromachi.