Gudang Inspirasi Hidup
Inspirasi

Norman Borlaug dan Gandum

3 menit baca

Norman Borlaug pada 2004. Gambar: Ben Zinner, USAID · Public domain · sumber

Pada 1968 seorang ahli biologi Amerika menulis dalam buku laris bahwa pertempuran untuk memberi makan seluruh umat manusia sudah berakhir, dan ratusan juta orang akan mati kelaparan pada dekade berikutnya. Saat kalimat itu terbit, seorang ahli tanaman asal Iowa sudah bertahun-tahun bekerja di ladang Meksiko, dan ladang-ladang di India serta Pakistan sedang berubah.

Norman Borlaug lahir pada 25 Maret 1914 di dekat Cresco, Iowa, dari keluarga petani keturunan Norwegia. Ia belajar di sekolah desa, gemar gulat, lalu kuliah kehutanan di Universitas Minnesota. Di akhir kuliahnya ia mendengar ceramah Elvin Stakman tentang “musuh kecil” yang menghancurkan tanaman pangan, dan ia pun beralih ke patologi tanaman sampai meraih doktor pada 1942.

Pada Juli 1944 ia menolak tawaran gaji dua kali lipat dari DuPont, lalu berangkat ke Meksiko untuk program gandum yang didukung Yayasan Rockefeller. Istrinya yang hamil dan putri kecilnya sementara ditinggalkan. Keadaan di sana sulit. Tanah miskin, para petani curiga karena panen mereka baru saja hancur oleh karat batang, dan ia menulis bahwa sering merasa telah membuat kesalahan besar dengan menerima pekerjaan itu.

Terobosan pertamanya menyalahi aturan. Biasanya orang menanam satu generasi setahun, dan benih diyakini perlu beristirahat sesudah panen. Borlaug ingin mempercepatnya dengan menanam di dua tempat: musim panas di dataran tinggi tengah, lalu segera membawa benihnya ke utara, ke Lembah Yaqui di Sonora. Atasannya, George Harrar, menolak, dan Borlaug mengundurkan diri. Stakman yang kebetulan berkunjung menenangkan keduanya, dan rencana itu berjalan. Mulai 1945 gandum dikembangkan di dua lokasi yang terpisah lebih dari 1.000 kilometer dan berbeda ketinggian lebih dari 2.000 meter. Keyakinan lama tentang istirahat benih terbukti keliru, dan gandum yang dihasilkan cocok di banyak tempat.

Masalah berikutnya adalah batang. Dengan pupuk, gandum tinggi menjadi berat dan roboh sebelum dipanen. Pada 1953 ia memperoleh varietas kerdil Jepang, Norin 10, yang telah disilangkan dengan gandum Amerika. Dari sana ia mengembangkan gandum semi-kerdil berbatang pendek dan kuat, tahan penyakit, dan berbuah lebih banyak. Pada 1963, 95 persen tanaman gandum Meksiko memakai varietas ini, dan panennya enam kali lipat dibanding tahun kedatangannya.

Pertengahan 1960-an Asia Selatan terancam kelaparan. Pada 1965 timnya mengirim sekitar 450 ton benih ke Pakistan dan India, melewati hambatan bea cukai, birokrasi, dan perang di kawasan itu. Hasil panennya lebih tinggi daripada yang pernah dicapai di Asia Selatan, dan pada tahun-tahun berikutnya kedua negara mengimpor benih dalam jumlah besar. Antara 1965 dan 1970 hasil gandum di sana hampir berlipat dua.

Pada 1970 Borlaug menerima Hadiah Nobel Perdamaian. Sering disebut ia menyelamatkan satu miliar nyawa; angka itu berasal dari perkiraan penulis, dan pertanian modern yang ia bawa juga menuai kritik atas dampak lingkungannya. Namun peramal kelaparan massal itu ternyata salah untuk Asia Selatan. Borlaug wafat pada 12 September 2009 dalam usia 95 tahun.

💖 Pesan Moral

  • Ramalan buruk bukan keputusan akhir. Orang yang bekerja di ladang bisa mengubahnya.
  • Periksa kembali aturan lama. Keyakinan bahwa benih harus istirahat ternyata keliru, dan keberanian mengujinya menghemat bertahun-tahun.
  • Pekerjaan paling berdampak sering terjadi jauh dari sorotan, di bawah terik matahari bersama tanaman dan catatan.
  • Keberhasilan pun punya harga. Mengakui sisi negatif tidak mengurangi jasa, tetapi membantu kita bertani lebih baik.

Disusun oleh Gudang Inspirasi dari catatan sejarah tentang Norman Borlaug. Angka “satu miliar nyawa” adalah perkiraan yang kerap dikutip, bukan hasil penghitungan pasti.