Katak yang Tuli
Terus memanjat tanpa mendengar teriakan "mustahil". Gambar: Marcus Quigmire from Florida, USA · CC BY-SA 2.0 · sumber
Di sebuah kolam di tengah hutan, para katak mengadakan perlombaan yang belum pernah diadakan sebelumnya: memanjat menara tua yang berdiri di tepi kolam. Menara itu tinggi sekali, licin, dan berlumut. Tidak ada seekor katak pun yang pernah mencapai puncaknya.
Pada hari perlombaan, ratusan katak berkumpul untuk menonton. Mereka bersorak, tetapi sebenarnya tidak ada yang percaya bahwa salah satu peserta akan berhasil.
Perlombaan dimulai. Belasan katak kecil mulai memanjat dinding menara.
Dari bawah, penonton mulai berteriak, “Mustahil! Terlalu tinggi! Kalian tidak akan sampai!”
“Turun saja! Nanti kalian jatuh!”
Satu per satu, para peserta mulai kehilangan semangat. Ada yang berhenti di tengah jalan, ada yang tergelincir, ada pula yang memilih turun karena merasa teriakan penonton itu benar. Semakin banyak yang menyerah, semakin keras penonton berseru, “Lihat, kan? Sudah kami bilang, tidak mungkin!”
Namun ada seekor katak yang terus memanjat. Ia bergerak pelan tetapi pasti, melompat dari satu batu ke batu lain, berpegangan pada lumut, beristirahat sejenak, lalu naik lagi. Teriakan dari bawah semakin riuh, tetapi ia sama sekali tidak menghiraukannya.
Akhirnya, seluruh peserta lain menyerah. Hanya katak itu yang tersisa. Dan dengan satu lompatan terakhir, ia berhasil mencapai puncak menara!
Penonton terdiam, lalu bersorak heboh. Ketika katak itu turun kembali ke tepi kolam, semua berkerumun ingin tahu rahasianya. “Bagaimana kamu bisa sampai ke atas, padahal semua yang lain menyerah?”
Katak itu hanya memandangi mereka dengan bingung. Seekor katak tua yang mengenalnya lalu menjelaskan, “Percuma kalian bertanya. Dia tidak bisa mendengar. Dia tuli sejak kecil.”
Semua tercengang. Ternyata katak itu tidak pernah mendengar teriakan “mustahil” dan “menyerah saja”. Bahkan, ketika melihat penonton melambai-lambai dan berteriak, ia mengira mereka sedang menyemangatinya. Maka ia memanjat semakin bersemangat.
Kadang kita kalah bukan karena tidak mampu, melainkan karena terlalu mendengarkan suara-suara yang mengatakan bahwa kita tidak mampu.
Sejak hari itu, para katak di kolam itu belajar sesuatu. Setiap kali ada yang mencoba hal sulit, mereka tidak lagi berteriak “mustahil”. Mereka bersorak memberi semangat sekeras-kerasnya, karena mereka tahu kata-kata bisa menjadi tangga.
💖 Pesan Moral
- Kata-kata orang lain punya kekuatan besar, baik untuk menjatuhkan maupun menguatkan.
- “Tulikan” telingamu dari suara-suara negatif yang membuatmu ragu pada mimpimu.
- Jadilah penonton yang menyemangati, bukan yang meneriakkan “mustahil”.
Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari perumpamaan populer tentang katak tuli yang memenangkan lomba memanjat; penulis aslinya tidak diketahui.