Burung Bulbul Sang Kaisar
Bulbul yang sederhana, tetapi suaranya tak tergantikan permata. Gambar: Christoph Moning · CC BY 4.0 · sumber
Dahulu kala, di negeri Tiongkok, berdirilah istana kaisar yang terbuat dari porselen halus. Tamannya begitu luas sehingga tukang kebun sendiri tidak tahu di mana ujungnya. Di hutan di ujung taman itu, dekat laut, tinggallah seekor burung bulbul yang nyanyiannya sangat merdu. Para nelayan miskin sering berhenti menebar jala hanya untuk mendengarkannya.
Para pelancong dari seluruh dunia datang mengagumi istana itu, dan mereka menulis buku tentangnya. Dalam buku-buku itu tertulis: “Yang paling indah dari semuanya adalah burung bulbul.” Ketika kaisar membaca kalimat itu, ia heran. “Burung bulbul? Di tamanku sendiri? Mengapa aku tidak pernah mendengarnya?”
Para pejabat istana pun bingung, karena tak seorang pun dari mereka pernah mendengar burung itu. Hanya seorang gadis dapur yang miskin yang tahu. Ia mengantar mereka ke hutan, dan di sana mereka melihat seekor burung kecil kelabu yang sederhana. Burung itu bersedia datang ke istana.
Ketika bulbul bernyanyi di hadapan kaisar, air mata mengalir di pipi sang kaisar. Ia ingin menghadiahkan sandal emasnya, tetapi bulbul menolak. “Aku sudah melihat air mata di mata Baginda. Bagiku, itulah hadiah yang paling berharga.”
Bulbul pun tinggal di istana dalam sangkar emas. Dua belas pelayan memegangi tali sutra yang diikatkan di kakinya setiap kali ia diajak keluar. Ia sangat terkenal, tetapi ia tidak bebas.
Suatu hari kaisar menerima hadiah dari Jepang: seekor bulbul mekanik yang bertatahkan berlian, rubi, dan safir. Bila diputar, burung buatan itu bisa menyanyikan satu lagu sambil menggoyangkan ekornya yang berkilau. Semua orang terpesona. Burung buatan itu bisa bernyanyi tiga puluh kali tanpa lelah, dan nadanya selalu sama. Di tengah keriuhan itu, bulbul yang asli terbang diam-diam kembali ke hutannya. Kaisar marah dan mengusirnya dari negeri itu.
Lima tahun kemudian, kaisar jatuh sakit parah. Wajahnya pucat dan dingin. Para pejabat sudah menyiapkan penggantinya. Di atas dadanya ia merasa ada yang duduk: itulah Maut, yang memakai mahkotanya dan memegang pedangnya. Di sekeliling ranjang, wajah-wajah aneh berbisik tentang semua perbuatan baik dan buruk yang pernah ia lakukan.
“Musik! Bunyikan musik!” seru kaisar. “Burung emasku, bernyanyilah!” Tetapi burung mekanik itu diam, karena tidak ada yang memutarnya, dan pernnya pun sudah aus.
Tiba-tiba dari jendela terdengar nyanyian yang paling indah. Bulbul yang asli telah mendengar kabar bahwa kaisar sakit, dan ia datang untuk menghibur dan memberinya harapan. Ia bernyanyi tentang taman pemakaman yang sunyi, tempat bunga mawar putih tumbuh. Maut pun mulai rindu pada tamannya sendiri, lalu melayang keluar seperti kabut putih yang dingin.
“Terima kasih, burung kecil,” kata kaisar. “Aku telah mengusirmu, tetapi kau mengusir maut dari ranjangku. Tinggallah bersamaku selamanya.”
“Aku tidak bisa tinggal di istana,” jawab bulbul. “Biarkan aku datang kapan aku mau. Aku akan bernyanyi untuk Baginda tentang orang-orang yang bahagia dan yang menderita, tentang kebaikan dan kejahatan yang tersembunyi dari Baginda. Tapi berjanjilah satu hal: jangan beri tahu siapa pun bahwa Baginda punya seekor burung kecil yang menceritakan segalanya.”
Esok paginya, para pelayan masuk untuk melihat kaisar yang mereka kira sudah wafat. Mereka terpana. Kaisar berdiri tegak dan menyapa mereka, “Selamat pagi!”
💖 Pesan Moral
- Yang asli dan tulus lebih berharga daripada yang mewah dan berkilau.
- Keindahan sejati tidak bisa dikurung; ia tumbuh dalam kebebasan.
- Sahabat sejati datang saat kita jatuh, bahkan setelah kita mengabaikannya.
Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari dongeng Hans Christian Andersen, “Burung Bulbul” (1843).