Gudang Inspirasi Hidup
Inspirasi

Danau Lipan dan Putri Aji Berdarah Putih

3 menit baca

Rumah lanting di Muara Kaman, kampung di tepi Mahakam tempat legenda Danau Lipan dituturkan. Gambar: Wadaihangit · CC BY-SA 4.0 · sumber

Muara Kaman, di tepi Sungai Mahakam, kini terlihat seperti banyak kampung sungai lainnya. Namun orang di sana menyimpan cerita tentang sebuah padang luas yang disebut Danau Lipan, yang airnya tidak ada lagi tetapi namanya masih dipakai.

Pada zaman dahulu, kata mereka, tempat itu masih laut, dan kerajaan di pesisirnya dipimpin seorang ratu yang sangat cantik bernama Putri Aji Berdarah Putih. Kulitnya begitu putih dan halus, sampai-sampai ketika ia menelan air sirih, warna merahnya terlihat turun melewati lehernya. Karena itulah ia mendapat nama tersebut.

Kabar kecantikannya menyeberangi lautan. Seorang raja dari negeri jauh berlayar bersama armada besar, membawa peti-peti hadiah untuk meminangnya. Kapalnya berjajar di muara, dan rombongannya mendarat dengan megah.

Sang putri menyambut mereka dengan penuh adat. Ia tahu menolak raja sekuat itu bukan perkara ringan, jadi ia ingin mengenal orangnya lebih dulu. Maka ia mengadakan jamuan makan, dan selama jamuan itu ia memperhatikan dengan cermat.

Di tengah hidangan ia melihat sesuatu yang membuatnya kecewa. Raja yang berpakaian serba indah itu makan dengan rakus, langsung dari wadahnya tanpa menggunakan tangan, seperti hewan. Para pengiringnya pun tidak merasa ada yang aneh. Bagi sang putri, cara seseorang makan menunjukkan banyak hal tentang cara ia memperlakukan dunia di sekitarnya.

Setelah jamuan selesai, ia menyampaikan jawabannya dengan sopan. Pinangan itu ditolak.

Sang raja tersinggung, dan wajah ramahnya menghilang. Ia memerintahkan pasukannya kembali ke kapal, lalu menyerang kerajaan itu dengan seluruh kekuatannya. Pasukan sang putri tidak sebanding. Mereka bertahan sekuat tenaga, tetapi armada musuh terus merapat. Tampaknya sudah tidak ada jalan keluar.

Dalam keadaan terdesak, Putri Aji Berdarah Putih mengambil sirih dan mengunyahnya perlahan. Ia berdiri di tepi perairan, memandangi kapal-kapal yang berderet itu, dan mengucapkan sumpah.

“Bila benar aku keturunan raja yang sah, biarlah sepah sirihku ini menjadi pelindung negeriku.”

Ia menyemburkan sepah sirih merah itu ke air.

Air bergolak. Sepah itu berubah menjadi lipan raksasa yang tak terhitung jumlahnya. Lipan-lipan itu berenang menuju kapal, memanjat lambungnya, dan menyerang semua yang ada di atasnya. Tak sedikit yang membalikkan kapal. Pasukan yang tadi begitu percaya diri kini panik, dan seluruh armada itu pun tenggelam bersama rajanya.

Setelah semuanya usai, sang putri tidak merayakannya. Dalam banyak tuturan, ia menghilang tanpa jejak, dan tak seorang pun tahu ke mana.

Berabad-abad berlalu. Laut itu surut dan berubah menjadi daratan, tetapi namanya tetap Danau Lipan. Orang tua di Muara Kaman masih suka menunjuk ke arah itu sambil mengingatkan anak-anak: kapal yang karam di sana, konon, masih terkubur di dalam tanah.

💖 Pesan Moral

  • Kenali orang dari kebiasaan kecilnya. Sang putri belajar lebih banyak dari satu jamuan daripada dari peti-peti hadiah.
  • Kemewahan tidak menjamin budi pekerti. Armada besar tidak bisa menutupi perilaku yang buruk.
  • Berani berkata tidak meski taruhannya besar. Ia menolak raja yang kuat karena ia tahu apa yang tidak bisa ia terima.

Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari salah satu versi legenda Kutai di Muara Kaman, Kalimantan Timur.