Serigala dan Anak Domba
Serigala mengawasi anak domba di tepi sungai, mencari alasan untuk menerkamnya. Gambar: Joseph Jacobs / Richard Heighway · Public domain · sumber
Anak domba itu masih terlalu muda untuk mengerti arti kata berbahaya. Ia berjalan menjauh dari kawanannya, mengikuti aliran sungai kecil dan kupu-kupu yang terbang rendah, sampai tak terdengar lagi suara induknya.
Di tikungan sungai, seekor serigala sedang berdiri. Ia melihat mangsa yang kecil, sendirian, dan tak punya tanduk. Satu terkaman sudah cukup.
Namun serigala ini punya kebiasaan aneh. Ia ingin kelihatan benar. Rasanya kurang pantas memangsa makhluk selemah itu tanpa alasan, jadi ia mendehem dan mencari-cari kesalahan.
“Hei, kau!” bentaknya. “Tahun lalu kau telah menghinaku dengan kata-kata kasar.”
Anak domba itu terkejut. Lututnya gemetar, tetapi ia menjawab dengan jujur.
“Maaf, Tuan, itu tidak mungkin. Tahun lalu saya belum lahir.”
Serigala mengernyit. Alasan pertamanya gugur begitu saja.
“Kalau begitu, kau makan rumput di padang milikku.”
“Tidak mungkin juga, Tuan. Saya belum pernah makan rumput. Gigi saya belum kuat.”
“Hm. Kau minum dari mata airku!”
“Sungguh, Tuan, saya belum pernah minum apa pun selain susu induk saya.”
Kali ini suaranya lebih pelan. Ia mulai berharap. Semua tuduhan sudah dijawab dengan baik, dan tak satu pun terbukti. Bukankah itu berarti ia tidak bersalah? Bukankah makhluk yang tidak bersalah boleh pulang?
Sungai terus mengalir. Serigala memandangi anak domba itu beberapa saat, lalu menghela napas seperti orang yang bosan dengan percakapan panjang.
“Pandai juga kau menjawab,” katanya. “Tetapi kau boleh menyangkal sebanyak yang kau mau. Aku tetap tidak akan melewatkan makan malamku.”
Dan selesailah perkara itu, secepat yang sudah ditentukannya sejak awal.
💖 Pesan Moral
- Orang yang sudah memutuskan tidak sedang mencari kebenaran. Ia hanya mencari alasan, dan bila satu gugur, ia akan menyiapkan yang lain.
- Jawaban yang benar tidak selalu menyelamatkan. Membela diri ada gunanya hanya di hadapan pihak yang bersedia mendengar.
- Kekuasaan sering ingin tampak adil. Waspadalah bila tuduhan berganti-ganti sementara hukumannya tidak pernah berubah.
- Jangan berjalan terlalu jauh dari kawanan sebelum mengenal apa yang menunggu di tikungan sungai.
Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari fabel Aesop “The Wolf and the Lamb” (Indeks Perry 155). Alur ini mengikuti salah satu versi; dalam versi Babrius dan Phaedrus keduanya bertemu saat minum di sungai yang sama.