Gudang Inspirasi Hidup
Inspirasi

Nala dan Damayanti

3 menit baca

Damayanti seorang diri di hutan, lukisan Raja Ravi Varma. Gambar: Raja Ravi Varma · Public domain · sumber

Di taman istananya, Raja Nala dari Nishada menangkap seekor angsa bersayap emas. Angsa itu memohon dilepaskan dan berjanji akan memuji Nala di hadapan Damayanti, putri Raja Bhima dari Widarbha, yang kecantikannya termasyhur. Nala melepaskannya. Angsa itu menepati janji, dan sejak mendengar nama Nala, hati Damayanti sudah tertambat.

Ketika tiba saatnya Damayanti memilih suami, para dewa pun datang dan melamarnya. Namun di tengah sayembara itu ia memilih Nala, seorang manusia. Para dewa merestuinya. Hanya Kali, roh perselisihan, yang tersinggung. Ia bersumpah akan merasuki Nala, sementara Dwapara berjanji masuk ke dalam dadu.

Dua belas tahun Kali menunggu sampai Nala lalai sesaat dalam bersuci. Lalu ia masuk ke dalam dirinya, dan Nala tiba-tiba tak bisa menolak ajakan saudaranya, Puskara, untuk bermain dadu. Ia kalah terus. Emas, kereta, kerajaan, semuanya lenyap. Damayanti sempat menyuruh kusirnya, Warsneya, membawa kedua anak mereka ke Widarbha, lalu ia sendiri mengikuti suaminya ke hutan dengan selembar kain di badan.

Nala, yang kini hanya punya sehelai kain bersama istrinya, memohon agar Damayanti pulang ke ayahnya. Damayanti menolak. Suatu malam, di sebuah pondok persinggahan, dengan pikiran yang dikuasai Kali, Nala memotong kain mereka menjadi dua, lalu meninggalkan istrinya yang sedang tidur.

Damayanti terbangun sendirian di hutan. Ia menjerit memanggil-manggil, melewati bahaya demi bahaya, hingga akhirnya tiba di negeri Chedi dan ditampung di istana oleh sang ibu suri. Seorang brahmana utusan ayahnya, Sudewa, mengenalinya dan membawanya pulang.

Sementara itu Nala menyelamatkan naga Karkotaka dari kebakaran hutan. Naga itu menggigitnya, dan tubuh Nala berubah menjadi buruk rupa. Bisa itu dimaksudkan untuk menyiksa Kali yang bersemayam di dalam dirinya. Karkotaka memberinya dua helai kain ajaib untuk mengembalikan wujud aslinya kelak, dan menyuruhnya mengabdi kepada Raja Rituparna di Ayodhya sebagai kusir bernama Wahuka.

Damayanti tidak berhenti mencari. Ia mengutus para brahmana ke segala penjuru dan menyuruh mereka bertanya di setiap balairung: “Wahai penjudi tercinta, ke mana engkau pergi setelah memotong separuh kainku dan meninggalkan istrimu yang sedang tidur?”

Di Ayodhya, seorang kusir buruk rupa menjawab pertanyaan itu sambil menangis. Damayanti segera tahu. Ia menyuruh Sudewa mengabarkan kepada Rituparna bahwa ia akan memilih suami lagi esok hari. Itu hanyalah siasat, karena ia tahu hanya Nala yang sanggup menempuh jarak seratus yojana dalam sehari.

Wahuka memacu kereta Rituparna secepat angin. Di tengah jalan, Rituparna memamerkan keahliannya berhitung dengan menyebut jumlah daun dan buah pada sebatang pohon wibhitaka, lalu mengajarkan ilmu dadu kepada Nala sebagai tukar ilmu kuda. Begitu ilmu itu dikuasainya, Kali terlempar keluar dari tubuh Nala sambil memuntahkan bisa Karkotaka.

Di Widarbha, tidak ada sayembara. Damayanti menguji kusir itu lewat dayangnya, Kesini, sampai mencicipi daging yang dimasaknya dan mengenali rasanya. Ketika keduanya bertemu, Nala mengenakan kain ajaib dan kembali ke wujud aslinya. Mereka berpelukan sambil menangis.

Nala kembali menantang Puskara dan memenangkan seluruh kerajaannya dengan ilmu dadu yang baru. Ia mengampuni saudaranya. Pada tahun keempat setelah kehilangan kerajaannya, keluarga itu kembali utuh.

💖 Pesan Moral

  • Judi bisa menghabisi orang baik. Nala adalah raja yang adil, dan beberapa lemparan dadu cukup untuk menjatuhkannya.
  • Kesetiaan yang cerdas lebih kuat daripada tangisan. Damayanti tidak hanya menunggu. Ia menyusun rencana dan menemukan suaminya.
  • Harapan perlu dibarengi usaha. Nala yang jatuh mau bekerja sebagai kusir, belajar lagi, dan bangkit.
  • Ampunan menutup luka lebih rapat daripada balas dendam.

Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari Mahabharata, Wana Parwa (Nalopakhyana). Kisah ini diringkas dari puluhan bab.