Tiga Saringan Sokrates
Patung dada Sokrates di Museum Capitolini, Roma. Gambar: Unknown artist Unknown artist · Public domain · sumber
Sokrates dikenal di Athena sebagai orang yang gemar bertanya. Ia berjalan-jalan di pasar, berhenti di depan siapa saja, dan menanyakan hal yang orang kira sudah mereka ketahui. Konon, pada suatu pagi seorang kenalan bergegas menghampirinya dengan napas memburu dan wajah bersemangat.
“Sokrates! Kamu harus dengar kabar tentang muridmu itu. Aku baru saja…”
Sokrates mengangkat tangan. “Tunggu sebentar. Sebelum kamu menceritakannya, aku ingin kabar itu lewat tiga saringan dulu.”
“Tiga saringan?”
“Ya. Saringan pertama adalah kebenaran. Apakah kamu yakin yang akan kamu katakan itu benar?”
Orang itu menggaruk kepala. “Yah, tidak juga. Aku cuma mendengarnya dari orang lain.”
“Jadi kamu tidak tahu apakah itu benar. Mari ke saringan kedua, yaitu kebaikan. Apakah yang akan kamu ceritakan itu sesuatu yang baik tentang dia?”
Semangat orang itu mulai surut. “Justru sebaliknya. Kabarnya tidak baik.”
“Hm. Jadi kamu ingin menyampaikan sesuatu yang buruk tentang seseorang, padahal kamu tidak yakin itu benar. Masih ada satu kesempatan. Saringan ketiga adalah kegunaan. Apakah kabar itu berguna bagiku?”
Orang itu memandang kakinya sendiri. “Kurasa tidak terlalu berguna.”
Sokrates tersenyum dan menepuk bahunya. “Kalau begitu, kabar itu belum tentu benar, tidak baik, dan tidak berguna. Untuk apa aku mendengarnya?”
Orang itu terdiam. Ia datang dengan membawa sesuatu yang terasa sangat mendesak, dan dalam beberapa saat, barang itu kehilangan bobotnya. Kabar yang tadi ingin ia sebarkan tetap tinggal di mulutnya. Ia pulang, dan barangkali sepanjang jalan bertanya kepada dirinya sendiri, berapa kali dalam sebulan ia melakukan hal yang sama.
Kisah ini sendiri tidak punya sumber kuno yang jelas. Ia lebih mirip nasihat yang beredar dari mulut ke mulut, lalu melekat pada Sokrates karena cocok dengan caranya bertanya.
Apa pun asal-usulnya, tiga pertanyaan itu mudah dibawa ke mana-mana, termasuk ke dalam telepon genggam, tepat sebelum jempol kita menekan tombol teruskan.
💖 Pesan Moral
- Tanyakan: benarkah ini? “Katanya” belum cukup untuk dijadikan kabar.
- Tanyakan: baikkah ini? Kebenaran yang disampaikan tanpa niat baik bisa melukai tanpa manfaat.
- Tanyakan: bergunakah ini? Tidak semua yang kita tahu perlu diteruskan kepada orang lain.
- Pendengar juga punya tanggung jawab. Gosip hanya hidup bila ada telinga yang menerimanya.
Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari anekdot populer yang dinisbahkan kepada Sokrates. Sumber kunonya tidak diketahui, sehingga kisah ini tidak dapat dianggap sebagai peristiwa sejarah.