Sura dan Baya
Patung Sura dan Baya di Taman Suroboyo, Surabaya. Gambar: Government of Surabaya · Public domain · sumber
Pengunjung Kebun Binatang Surabaya akan bertemu patung ikan hiu dan buaya yang saling melilit. Sosok yang sama muncul di lambang kota dan di taman tepi Selat Madura. Banyak warga kota sudah hafal: itu Sura dan Baya. Namun tak semua ingat bahwa kisah keduanya sebenarnya tentang perjanjian yang dilanggar.
Dahulu kala, di muara sungai di pesisir Jawa bagian timur, hiu bernama Sura dan buaya bernama Baya sering berkelahi. Sura penguasa laut, Baya penguasa darat dan sungai. Keduanya sama kuat dan sama-sama lapar. Di tempat air sungai bertemu air laut, setiap ikan yang lewat menjadi rebutan. Pertarungan mereka menggemparkan air, dan tak ada yang pernah benar-benar menang.
Suatu hari, setelah bertarung sampai sama-sama letih, Sura berhenti.
“Baya, aku bosan,” katanya sambil terengah-engah. “Setiap hari kita saling melukai dan tak satu pun menang. Mari kita bagi wilayah ini. Aku di laut, kau di darat. Batasnya tempat air laut dan air tawar bertemu. Tak ada yang boleh melewatinya.”
Baya menimbang-nimbang, lalu setuju. Mereka berjanji, dan untuk beberapa waktu lamanya muara itu tenang. Sura berburu di laut. Baya berburu di sungai.
Namun ikan-ikan di laut kian sulit dicari. Suatu hari Sura berenang pelan-pelan ke muara, dan matanya tertuju pada sungai yang penuh ikan. Ia memandang ke sekeliling. Tak ada Baya. Maka ia berenang masuk, makan sepuasnya, dan kembali diam-diam. Esoknya ia kembali lagi.
Akhirnya Baya memergokinya. “Sura! Kau mengingkari janji! Ini sungai, wilayahku!”
Sura tersenyum licik. “Bukankah ini air? Aku penguasa air. Yang kita sepakati adalah laut untukku dan darat untukmu. Sungai ini air, jadi ini wilayahku juga.”
Baya bergetar menahan marah. “Licik sekali kau. Sungai ini jelas bagianku.”
Tak ada lagi yang bisa dibicarakan. Keduanya kembali bertarung, dan kali ini jauh lebih hebat dari sebelumnya. Air muara berubah merah. Baya menggigit ekor Sura, dan Sura merobek tubuh Baya. Pertarungan itu berlangsung lama sampai keduanya kehabisan tenaga. Sura berenang menjauh ke laut, dan Baya menyeret tubuhnya ke tepi. Dalam beberapa penuturan, keduanya mati karena luka-lukanya.
Orang-orang di sekitar muara itu mengenang pertarungan tersebut, dan dari nama kedua makhluk itulah, kata cerita rakyat, tempat itu disebut Surabaya.
Sejarawan punya catatan lain tentang nama kota ini, dan ada pula tafsiran yang mengaitkan sura dan baya dengan kata-kata Jawa tentang keberanian menghadapi bahaya. Warga Surabaya tampaknya tak keberatan punya banyak cerita, dan patung itu tetap berdiri.
💖 Pesan Moral
- Perjanjian harus ditulis dengan jelas. Batas yang samar menjadi celah bagi orang yang ingin curang.
- Mencari celah sama saja dengan mengingkari janji. Sura tahu betul apa yang dimaksud, tetapi berpura-pura tidak.
- Keserakahan menghancurkan kedamaian yang sudah susah payah dibuat. Sedikit tambahan ikan dibayar dengan luka yang parah.
Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari legenda rakyat Surabaya, Jawa Timur; salah satu versi. Ini cerita rakyat dan bukan penjelasan sejarah tentang nama kota Surabaya.