Ayah, Anak, dan Keledai
Berjalan kaki, salah. Anak menunggang, salah. Ayah menunggang, salah juga. Kisah tentang mustahilnya menyenangkan semua orang.
Berjalan kaki, salah. Anak menunggang, salah. Ayah menunggang, salah juga. Kisah tentang mustahilnya menyenangkan semua orang.
Setiap sore Pak Hasan menceritakan taman indah di luar jendela kepada teman sekamarnya. Lalu suatu hari, rahasia jendela itu terungkap.
Sebuah makam putih di Langkawi menyimpan kisah fitnah, darah yang aneh warnanya, dan kata-kata terakhir yang diingat selama tujuh keturunan.
Kakek yang gemetar disuruh makan sendirian di sudut dari mangkuk kayu. Lalu cucunya yang kecil mulai merangkai potongan kayu di lantai.
Majapahit terdesak oleh pemilik gada wesi kuning. Tak ada yang mengira harapan negeri itu ada pada seorang pengurus kuda.
Murid yang telah diajari 359 jurus merasa sanggup mengalahkan gurunya. Ia lupa, sang guru masih menyimpan satu jurus.
Karena fitnah, Hang Tuah dihukum mati, dan sahabatnya bangkit melawan raja. Lalu sang sahabat mendapati siapa yang dikirim untuk menghentikannya.
Untuk menyeberang sungai, Yuyu Kangkang meminta satu ciuman. Tiga gadis bersolek menyanggupi. Seorang gadis lusuh dengan sapu lidi menolak.
Baginda dan delapan belas menterinya menyiapkan permainan di kolam air panas, dan semua orang tahu aturannya kecuali Abu Nawas.
Di televisi ia ditanya siapa pemilik paten vaksin polio. Jawabannya terkenal sampai sekarang, dan ceritanya lebih rumit daripada yang biasa disampaikan.