Puteri Santubong dan Puteri Sejinjang
Dua putri kayangan turun untuk mendamaikan dua kampung yang berperang. Mereka berhasil, sampai seorang pangeran singgah.
Kumpulan kisah
Dua putri kayangan turun untuk mendamaikan dua kampung yang berperang. Mereka berhasil, sampai seorang pangeran singgah.
Seorang istri sangat kikir. Guru Mokusen datang tanpa ceramah, hanya mengepalkan tangan lalu membukanya. "Kalau selalu begini, kau sebut apa?"
Seorang gadis ajaib lahir dari bunga kelapa dan memberi hadiah makin mahal setiap malam. Di tengah tarian Maro, orang-orang mulai iri.
Tubuhnya hanya sebesar jari kelingking. Ketika sekampung lari dari para raksasa, ia satu-satunya yang memilih tinggal.
Anak-anaknya selalu bertengkar. Maka sang ayah meminta mereka mematahkan seikat ranting, lalu sebatang ranting.
Ditampar sahabatnya, ia menulis di pasir. Diselamatkan sahabat yang sama, ia memahat di batu. Mengapa berbeda?
Naskah yang ia sembunyikan di dalam jasnya hilang di Auschwitz. Keinginan menulisnya kembali ikut membuatnya bertahan.
Seekor serigala meneror kota Gubbio dan senjata tak mempan. Seorang biarawan miskin keluar menemuinya, membawa sebuah tawaran.
Setiap pagi sepatu-sepatu indah sudah jadi di meja tukang sepatu yang miskin. Suatu malam ia dan istrinya berjaga untuk melihat siapa penolongnya.
Kehilangan ekor membuat seekor rubah sangat malu. Ia lalu mengumpulkan seluruh kaumnya dan menyampaikan sebuah usul yang terdengar sangat masuk akal.