Gudang Inspirasi Hidup
Inspirasi

Santo Fransiskus dan Serigala Gubbio

3 menit baca

Serigala Gubbio pada masa damai, menerima makanan dari warga. Lukisan Luc-Olivier Merson, 1877. Gambar: Luc-Olivier Merson · Public domain · sumber

Kota Gubbio di Italia sedang dicekam ketakutan. Menurut riwayat, seekor serigala besar berkeliaran di sekitarnya. Mula-mula ia memangsa ternak, lalu ia juga menyerang manusia. Orang-orang tidak berani keluar dari tembok kota tanpa membawa senjata, dan senjata pun sering tidak menolong.

Saat itu Fransiskus dari Assisi sedang tinggal di kota tersebut. Ia seorang biarawan miskin yang terkenal lembut kepada semua makhluk. Mendengar keluhan warga, ia memutuskan menemui serigala itu. Orang-orang berusaha mencegahnya, tetapi ia membuat tanda salib dan berjalan keluar kota bersama beberapa pengikutnya. Warga yang penasaran mengikuti dari kejauhan.

Serigala itu melihat mereka dan langsung menerjang dengan mulut menganga. Fransiskus membuat tanda salib lagi dan memerintahkannya berhenti atas nama Tuhan. Serigala itu menutup mulutnya, berjalan pelan mendekat, lalu berbaring di kakinya.

Fransiskus berbicara kepadanya seperti kepada seorang saudara. “Saudara Serigala, engkau telah berbuat banyak kejahatan di negeri ini. Seluruh warga memusuhimu. Tetapi aku ingin mendamaikan engkau dengan mereka.”

Riwayat itu mencatat satu hal yang menarik. Fransiskus mengerti mengapa semua itu terjadi: kelaparanlah yang mendorong serigala itu berbuat jahat. Maka ia menawarkan perjanjian. Warga Gubbio akan memberi makan serigala itu setiap hari selama ia hidup, dan ia tak perlu lagi kelaparan. Sebagai gantinya, ia berjanji tidak lagi menyerang manusia atau hewan.

“Apakah engkau berjanji?” tanya Fransiskus sambil mengulurkan tangan.

Serigala itu menundukkan kepala, mengangkat kaki depannya, dan meletakkannya di tangan Fransiskus.

Mereka kembali ke kota bersama-sama, serigala itu berjalan jinak di sampingnya. Warga berkumpul di pasar dan tak percaya pada mata mereka sendiri. Fransiskus berkhotbah kepada mereka, lalu mengulangi perjanjian itu di depan semua orang. Warga berseru bahwa mereka bersedia memberi makan serigala itu. Sekali lagi hewan itu mengangkat kakinya sebagai tanda setuju.

Perjanjian itu ditepati kedua belah pihak. Serigala itu hidup sekitar dua tahun lagi di Gubbio, berjalan dari pintu ke pintu untuk mendapat makanan. Ia tidak mengganggu siapa pun, dan anjing-anjing pun tidak menyalaknya. Ketika akhirnya ia mati karena usia, warga kota berduka. Hewan yang dulu mereka takuti telah menjadi tetangga, dan setiap kali melihatnya mereka teringat kepada kebaikan orang suci itu.

💖 Pesan Moral

  • Cari akar masalahnya. Fransiskus melihat kelaparan di balik keganasan, dan ia menyelesaikan penyebabnya.
  • Perdamaian butuh dua pihak. Bukan hanya serigala yang berjanji. Warga kota pun harus berubah dan memberi.
  • Keberanian bisa berjalan tanpa senjata. Niat baik yang tegas kadang lebih ampuh daripada tombak.
  • Musuh hari ini bisa menjadi tetangga esok hari, bila ada yang berani melangkah lebih dulu.

Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari Fioretti di San Francesco (Bunga-Bunga Kecil Santo Fransiskus), bab 21, kumpulan riwayat Fransiskan abad ke-14. Peristiwanya adalah legenda keagamaan yang tidak dapat dipastikan kesejarahannya.