Rusa Banyan
Relief rusa dari Stupa Bharhut, seperti rusa-rusa yang menjadi tokoh kisah Jataka ini. Gambar: Cunningham, Alexander, Sir, 1814-1893 · Public domain · sumber
Raja Benares sangat gemar berburu rusa, dan setiap hari ia memaksa rakyatnya ikut. Sawah terbengkalai, pekerjaan terhenti. Akhirnya rakyat mendapat akal: mereka menanam rumput, membuat pagar di taman kerajaan, lalu menggiring rusa-rusa dari hutan ke dalamnya. Dengan begitu raja bisa berburu di halaman sendiri, dan mereka bisa kembali bekerja.
Di antara rusa yang tergiring ada dua kawanan, masing-masing lima ratus ekor, dipimpin dua rusa jantan berwarna keemasan. Yang satu bernama Rusa Banyan, yang lain Rusa Dahan. Raja mengagumi keduanya dan memberi mereka perlindungan khusus. Rusa-rusa lainnya tidak seberuntung itu.
Setiap hari raja atau juru masaknya datang memanah. Rusa-rusa berlarian panik, dan banyak yang terluka tanpa pernah sampai ke dapur. Rusa Banyan menemui Rusa Dahan.
“Kita memang tak bisa lari dari kematian,” katanya. “Tetapi luka-luka ini bisa dihindari. Biarlah kita mengundi. Setiap hari satu ekor dari kawananku, hari berikutnya satu ekor dari kawananmu, berjalan sendiri ke tempat penjagalan.”
Rusa Dahan setuju, dan sejak itu tak ada lagi rusa yang terkena panah.
Suatu hari undian jatuh pada seekor rusa betina yang sedang hamil dari kawanan Rusa Dahan. Ia menghadap pemimpinnya.
“Aku akan pergi, Tuan, tetapi izinkan aku melahirkan dulu. Sesudah itu aku akan menjalani giliranku.”
“Aturan tetap aturan,” jawab Rusa Dahan. “Pergilah.”
Dengan putus asa ia mendatangi Rusa Banyan, pemimpin kawanan lain, dan mengulang permohonannya. Rusa Banyan diam sejenak, lalu berkata lembut, “Pulanglah. Giliranmu aku yang pindahkan.”
Ia berjalan sendiri ke tempat penjagalan dan meletakkan kepalanya di balok. Juru masak terkejut melihat rusa yang kebal itu berbaring di sana, lalu berlari melapor. Raja segera naik kereta dan datang.
“Sahabatku, bukankah aku sudah menjamin keselamatanmu? Mengapa kau di sini?”
“Tuanku, seekor rusa yang sedang mengandung kena giliran. Aku tak bisa menyuruh rusa lain menggantikannya, jadi aku yang datang.”
Raja lama terdiam. Ia telah melihat banyak manusia yang berkuasa, tetapi belum pernah melihat kemurahan hati seperti ini.
“Bangunlah. Kau dan rusa itu kuampuni.”
“Kami berdua selamat, Tuanku. Bagaimana dengan rusa-rusa yang lain?”
Raja mengampuni semua rusa di taman. Rusa Banyan bertanya lagi tentang semua hewan berkaki empat, lalu tentang burung-burung, lalu tentang ikan-ikan di air. Satu per satu permintaan itu dikabulkan. Barulah ia pulang ke hutan bersama kawanannya.
Kisah ini punya penutup yang sederhana. Rusa-rusa yang kini tak takut lagi mulai merusak ladang penduduk, dan petani tak berani mengusir karena titah raja. Rusa Banyan mendengar keluhan mereka dan melarang kawanannya menyentuh tanaman orang. Ia meminta petani menandai ladang mereka dengan seikat daun. Sejak itu, konon, tak ada rusa yang melewati tanda tersebut.
💖 Pesan Moral
- Keadilan butuh belas kasihan. Aturan yang adil sekalipun bisa kejam jika diterapkan tanpa melihat keadaan orangnya.
- Jangan puas dengan selamat sendiri. Rusa Banyan sudah diampuni, tetapi ia terus meminta bagi yang lain.
- Kebebasan disertai tanggung jawab. Setelah dilindungi, kawanan pun harus menahan diri agar tidak merugikan orang lain.
Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari Nigrodhamiga Jataka (Jataka no. 12), kumpulan kisah kelahiran lampau Buddha dalam tradisi Buddhis.