Gudang Inspirasi Hidup
Humor

Warga Schilda Membangun Balai Tanpa Jendela

3 menit baca

Sampul buku Die Schildbürger terbitan 1854, memperlihatkan kekonyolan lain warga Schilda: mengerek sapi ke tembok. Gambar: F.S. Haarer · Public domain · sumber

Warga Schilda sudah lama terkenal bijak. Saking bijaknya, raja-raja sering meminta nasihat mereka, dan para lelakinya jarang di rumah. Akhirnya mereka sepakat berpura-pura bodoh agar dibiarkan tinggal tenang di kampung sendiri. Masalahnya, mereka berpura-pura terlalu lama dan terlalu pandai. Lama-kelamaan kebodohan itu menjadi sungguhan.

Karya besar pertama mereka adalah balai kota yang baru. Seluruh warga turun tangan. Kayu ditebang, batu diangkut, dan bentuknya dibuat segitiga agar berbeda dari balai kota mana pun di dunia. Dindingnya kukuh, atapnya rapi, dan pintunya gagah. Semua orang bangga.

Hari peresmian tiba. Para warga masuk berbondong-bondong sambil berdesakan, lalu serempak berhenti. Di dalam gelap gulita. Mereka saling menginjak kaki, saling bertabrakan, dan tak ada yang bisa melihat hidungnya sendiri.

“Aneh,” kata seseorang. “Di luar terang benderang.”

Mereka keluar dan memeriksa bangunan itu dari segala sisi. Dinding baik. Atap baik. Pintu baik. Tak ada yang rusak. Lalu mengapa di dalamnya gelap? Karena persoalan ini jelas sangat berat, diputuskan untuk mengadakan sidang keesokan harinya.

Besoknya setiap warga datang dengan sebatang obor yang ditancapkan di topinya, supaya bisa melihat satu sama lain sekaligus agar tangan tetap bebas. Sidang berlangsung lama. Akhirnya seorang warga yang paling cerdas berdiri dan memberi kesimpulan yang disambut tepuk tangan: ruangan itu gelap karena di dalamnya tidak ada cahaya siang. Jadi, cahaya siang harus dibawa masuk.

Esoknya matahari bersinar cerah. Warga Schilda keluar membawa semua wadah yang mereka punya: karung, keranjang, peti, bak, panci. Di halaman, mereka membuka karung lebar-lebar, membiarkan sinar matahari masuk, lalu cepat-cepat mengikatnya. Yang lain menyendok sinar dengan sekop ke dalam ember. Mereka berlari ke dalam balai dan menumpahkan muatannya di lantai. Lalu mereka bergegas keluar untuk mengambil lagi.

Sehari penuh mereka bekerja sampai bermandi keringat. Sore harinya mereka masuk untuk memeriksa hasilnya. Masih gelap, persis seperti sebelumnya.

Mereka hampir putus asa ketika seorang warga, yang berjalan meraba-raba dinding menuju pintu, merasakan kehangatan di wajahnya. Seberkas sinar matahari masuk lewat sebuah celah kecil dan jatuh tepat ke janggutnya.

Ia berhenti. Ia berpikir. Lalu ia mengajukan gagasan yang belum pernah terlintas di benak siapa pun: bagaimana jika cahaya itu dibiarkan masuk sendiri, lewat sebuah lubang di dinding?

Sidang pun diadakan lagi. Gagasan itu diterima. Para warga Schilda sangat kagum pada penemuan baru tersebut, yang hari ini kita kenal sebagai jendela.

💖 Pesan Moral

  • Periksa dasar rencana sebelum merayakannya. Dinding kukuh tidak berguna kalau lupa pada hal paling sederhana.
  • Kerja keras pada cara yang salah tetap cara yang salah. Sehari penuh mengangkut sinar matahari tidak menghasilkan apa-apa.
  • Kebiasaan buruk berawal dari sandiwara. Warga Schilda berpura-pura bodoh sampai lupa caranya berpikir. Dan lain kali kalau rapat buntu, coba lihat dulu ke mana arah sinarnya.

Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari kisah warga Schilda dalam buku rakyat Jerman Lalebuch (1597) dan Schildbürgerbuch (1598). Akhir ceritanya mengikuti salah satu versi, dan penuturan lain berbeda dalam rincian.