Gudang Inspirasi Hidup
Inspirasi

Tiga Sapi Jantan dan Singa

3 menit baca

Sapi-sapi yang merumput berdekatan di tepi sungai, gambaran kebersamaan yang menjadi pokok fabel ini. Gambar: Aelbert Cuyp · Public domain · sumber

Tiga ekor sapi jantan merumput bersama di sebuah padang luas di tepi hutan. Mereka sudah bertahun-tahun tidak terpisahkan. Mereka makan berdampingan, minum di tepi sungai yang sama, dan tidur saling bersandar. Kalau bahaya datang, ketiganya berdiri beradu punggung dengan tanduk mengarah ke luar.

Dari balik semak, seekor singa mengamati mereka dengan perut lapar. Hampir setiap hari ia datang ke tempat itu. Ia menghitung langkah, mencari celah, mencoba dari arah angin yang berbeda. Hasilnya selalu sama. Melawan satu ekor ia yakin menang. Melawan tiga pasang tanduk sekaligus, ia bisa pulang dengan perut robek.

Maka singa itu berhenti memikirkan cakarnya dan mulai memikirkan kata-katanya.

Suatu sore, ketika salah seekor sapi minum agak jauh dari kawannya, sebuah suara lembut terdengar dari balik alang-alang.

“Sayang sekali, kau yang paling gagah tetapi selalu mendapat rumput sisa. Kawan-kawanmu sering membicarakan hal itu, kau tahu.”

Sapi itu mendengus dan tidak menjawab. Tetapi malam itu ia lama terjaga.

Beberapa hari kemudian, sapi kedua mendengar hal serupa. Katanya sapi ketiga mengeluh bahwa ia terlalu lambat. Sapi ketiga juga mendapat bagiannya: katanya dua kawannya berniat meninggalkannya. Tak ada tuduhan besar, hanya bisikan kecil di sana-sini. Masing-masing bisikan terasa remeh, dan masing-masing tinggal di kepala.

Lama-kelamaan padang itu berubah. Tak ada lagi yang menegur saat bangun pagi. Rumput yang biasanya dimakan bersama kini menjadi alasan untuk saling mendorong. Sapi pertama mulai merumput di sudut timur. Sapi kedua memilih dekat sungai. Sapi ketiga menyendiri di bawah pohon, jauh dari keduanya, dan yakin bahwa ia yang telah disakiti.

Singa menunggu sampai jarak di antara mereka cukup lebar. Ia tidak perlu tergesa-gesa.

Pada suatu senja ia keluar dari semak dan menerkam sapi yang di bawah pohon. Sapi itu melenguh keras. Dua sapi yang lain mendengar suaranya dari kejauhan, tetapi tak satu pun beranjak. Bukankah mereka sudah tidak berteman?

Beberapa hari kemudian giliran sapi yang di tepi sungai. Sapi terakhir berdiri sendirian di sudut timur ketika singa datang. Ia mengarahkan tanduknya ke depan, dan untuk pertama kalinya ia sadar betapa terbukanya punggung yang tak dijaga siapa pun.

💖 Pesan Moral

  • Periksa dahulu bisikan yang membuatmu curiga pada kawan sendiri. Tanyakan langsung kepada orangnya, dan pikirkan siapa yang diuntungkan oleh bisikan itu.
  • Pertengkaran antarkawan adalah peluang bagi lawan. Singa tidak mengalahkan tiga sapi, ia hanya menunggu mereka tidak lagi bertiga.
  • Keretakan jarang terjadi dalam sehari. Sapaan yang hilang dan jarak yang melebar adalah tanda awal yang perlu segera dibereskan.

Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari fabel Aesop “The Lion and the Three Bulls”. Sebagian edisi menyebut empat lembu (“The Four Oxen and the Lion”), dan isi bisikan singa di sini adalah pengembangan dari keterangan singkat sumbernya.