Burung Pemandu Madu
Burung pemandu madu dalam gravur abad ke-19. Kecil dan kusam, tetapi hafal letak setiap sarang lebah. Gambar: Nicolas Huet / Jean Gabriel Prêtre · Public domain · sumber
Di tepi hutan negeri Zulu hiduplah seorang pemuda bernama Gingile, pemburu yang gemar sekali makan madu. Di hutan yang sama hidup Ngede, burung kecil berwarna kusam yang tahu letak setiap sarang lebah dalam jarak berhari-hari perjalanan. Ngede tidak bisa membongkar sarang itu sendirian. Ia butuh manusia. Sejak dahulu kala, burung pemandu madu dan manusia punya perjanjian: si burung menunjukkan jalan, si manusia meninggalkan bagian untuknya.
Suatu hari, saat berburu, Gingile mendengar suara yang sudah sangat dikenalnya.
“Cik-cik-cik! Cik-cik-cik!”
Air liurnya langsung terbit. Ia mendongak dan melihat burung itu bertengger di dahan, gelisah dan tak sabar. Ngede terbang ke pohon berikutnya, berhenti, menengok ke belakang memastikan Gingile mengikuti, lalu terbang lagi.
Setengah jam kemudian mereka tiba di sebuah pohon ara liar yang sangat besar. Ngede melompat-lompat di dahan, lalu menelengkan kepala ke arah Gingile, seakan bertanya kenapa ia lama sekali.
Gingile meletakkan tombaknya dan membuat api kecil. Ia menyalakan sebatang kayu yang dikenal banyak mengeluarkan asap, menggigit ujungnya yang dingin, lalu memanjat. Sebentar kemudian terdengar dengung lebah. Ia menyodokkan kayu berasap itu ke lubang batang pohon, dan lebah-lebah menyerbu keluar, tentu saja sambil menghadiahkan beberapa sengatan. Ketika sarang sudah kosong, Gingile memasukkan tangannya dan mengeluarkan segenggam demi segenggam sarang yang berat dan meneteskan madu. Semuanya ia masukkan ke kantong di bahunya.
Ngede mengikuti setiap gerakannya. Saat Gingile turun, burung itu hinggap di atas batu dekat kakinya dan menunggu upahnya.
Gingile mematikan api, mengambil tombaknya, dan berjalan pergi.
Ngede menjerit marah, memanggil-manggil dengan suara lantang. Gingile berhenti, memandangi burung kecil itu, dan tertawa keras-keras.
“Kamu mau madu, ya? Aku yang bekerja dan aku yang disengat. Kenapa aku harus membaginya denganmu?”
Ia pulang dengan kantong penuh. Ngede tidak mengejarnya. Burung itu hanya mengingat.
Beberapa minggu kemudian, Gingile kembali mendengar panggilan itu. Ingatan akan madu yang lezat membuatnya langsung mengikuti. Ngede menuntunnya menyusuri tepi hutan dan berhenti di sebatang pohon akasia yang besar.
“Pasti sarangnya di sini,” pikir Gingile. Cepat-cepat ia membuat api dan memanjat dengan kayu berasap di gigi. Ngede duduk diam dan menonton.
Anehnya, tak ada dengung lebah. Mungkin sarangnya ada di dalam, pikir Gingile. Ia menarik tubuhnya ke dahan yang lebih tinggi, lalu mengangkat kepala.
Tepat di depan wajahnya, seekor macan tutul sedang tidur siang. Atau tadinya sedang tidur.
Macan itu menyipitkan mata dan membuka mulutnya perlahan-lahan. Gingile tidak menunggu kelanjutannya. Ia meluncur turun, kehilangan pijakan, dan jatuh berdebam ke tanah dengan pergelangan kaki terkilir. Sambil terpincang-pincang ia melarikan diri. Untung macan itu masih terlalu mengantuk untuk mengejarnya.
Dari atas pohon, Ngede memperhatikan semuanya, dan urusannya pun selesai. Sejak hari itu, anak cucu Gingile selalu menghormati burung kecil tersebut. Setiap kali memanen madu, mereka menyisihkan bagian terbesar dari sarang untuk si pemandu.
💖 Pesan Moral
- Berterima kasihlah kepada yang membantu, sekecil apa pun bantuannya. Gingile mengira semua hasil itu miliknya karena ia yang disengat.
- Kerja sama hidup dari kepercayaan. Sekali dikhianati, jalan yang sama bisa berujung ke tempat yang sangat berbeda.
- Jangan sepelekan yang kecil. Burung sebesar genggaman tangan bisa membawa pemburu ke depan mulut macan.
Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari cerita rakyat Zulu, Afrika Selatan, tentang burung pemandu madu; nama tokoh mengikuti versi African Storybook. Kebiasaan menyisakan madu untuk burung ini juga tercatat di berbagai masyarakat Afrika bagian selatan.