Batu Menangis
Bukit Kelam di Kalimantan Barat, tanah asal legenda Batu Menangis. Gambar: Riko okto · CC BY-SA 4.0 · sumber
Di sebuah bukit terpencil di Kalimantan Barat, tinggallah seorang janda miskin bersama putrinya. Gadis itu sangat cantik. Wajahnya bersih, rambutnya panjang berkilau, dan banyak orang memujinya.
Sayangnya, pujian itu membuatnya sombong dan malas. Ia tidak pernah mau membantu ibunya bekerja di ladang. Setiap hari ia hanya bersolek di depan cermin dan meminta dibelikan pakaian bagus, padahal ibunya membanting tulang hanya untuk sekadar makan.
Suatu hari, sang ibu mengajak putrinya ke pasar di desa seberang bukit. Gadis itu mau ikut, asalkan ia boleh berjalan di depan dan ibunya mengikuti di belakang. Ia berdandan secantik mungkin dan memakai pakaian terbaiknya, sementara ibunya mengenakan baju yang lusuh dan membawa keranjang.
Di sepanjang jalan, orang-orang yang berpapasan menatap kagum pada gadis itu. Seorang pemuda bertanya, “Hai, gadis cantik, siapakah perempuan tua di belakangmu itu? Ibumu?”
Gadis itu tertawa kecil. “Bukan. Dia pembantuku.”
Sang ibu mendengarnya. Hatinya perih, tetapi ia diam saja. Tak lama, seorang lelaki lain bertanya hal yang sama, dan gadis itu kembali menjawab, “Itu budakku.”
Begitu terus, setiap kali ada yang bertanya, jawabannya sama. Ibunya menahan air mata sepanjang jalan. Sampai akhirnya, ketika gadis itu sekali lagi menyebut ibunya sebagai budak, perempuan tua itu tidak sanggup lagi menahan sakit hatinya.
Ia berhenti, menengadah ke langit, dan berdoa dengan suara bergetar. “Ya Tuhan, hamba tak kuat lagi menahan hinaan anak hamba sendiri. Berilah ia pelajaran.”
Langit mendadak mendung. Perlahan, kaki gadis itu terasa berat dan kaku. Ia melihat ke bawah dan menjerit: kakinya berubah menjadi batu. Batu itu merambat naik ke lututnya, ke pinggangnya.
“Ibu! Ampuni aku, Ibu! Aku menyesal!” tangisnya.
Tetapi penyesalan itu datang terlambat. Seluruh tubuhnya menjadi batu, sementara air matanya terus mengalir. Menurut cerita rakyat setempat, batu itu tetap basah seolah masih menangis, sehingga orang menyebutnya Batu Menangis.
Legenda ini terus diceritakan untuk mengingatkan bahwa kecantikan wajah tidak berarti apa-apa tanpa kecantikan hati, dan bahwa lidah yang menghina orang tua bisa melukai lebih dalam daripada pukulan.
💖 Pesan Moral
- Jangan pernah malu mengakui orang tua sendiri, betapa pun sederhananya mereka.
- Kecantikan sejati datang dari hati, bukan dari wajah atau pakaian.
- Penyesalan selalu datang belakangan; jagalah sikap sebelum terlambat.
Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari legenda rakyat Batu Menangis dari Kalimantan Barat.