Asal-Usul Telaga Warna
Telaga Warna di kawasan Puncak, Jawa Barat, yang warnanya berubah-ubah. Gambar: RXerself , Creutzen · CC BY-SA 4.0 · sumber
Tidak jauh dari kebun teh di kawasan Puncak, tersembunyi sebuah telaga kecil yang dikelilingi hutan. Warna airnya bisa berubah, tergantung cahaya dan musim, kadang hijau, kadang kecokelatan, kadang kebiruan. Orang-orang tua di sana punya cerita tentang mengapa telaga itu demikian.
Dulu di lereng pegunungan itu berdiri Kerajaan Kutatanggeuhan. Rajanya, Prabu Suwartalaya, dan permaisurinya, Ratu Purbamanah, dicintai rakyat karena adil dan murah hati. Negeri itu makmur. Hanya satu yang kurang: mereka lama tak dikaruniai anak.
Sang raja akhirnya pergi ke hutan untuk bertapa. Doanya dikabulkan. Tak lama setelah ia pulang, sang ratu mengandung. Lahirlah seorang putri, yang diberi nama Gilang Rukmini.
Rakyat bersukacita. Seluruh negeri ikut menyayangi anak itu. Setiap hari ia mendapat hadiah dan apa pun keinginannya segera dipenuhi. Tak seorang pun pernah berani berkata “tidak” kepadanya. Maka ketika ia tumbuh menjadi gadis yang cantik, ia juga tumbuh menjadi gadis yang mudah marah dan sulit menghargai pemberian orang.
Saat sang putri hampir berusia tujuh belas tahun, rakyat ingin memberinya hadiah istimewa. Mereka mengumpulkan emas dan permata dari berbagai pelosok negeri. Sebagian diberikan oleh petani yang menjual simpanannya dan oleh ibu-ibu yang melepas perhiasan satu-satunya. Sang raja menyerahkan semuanya kepada para pengrajin untuk dijadikan kalung terindah, dan sisanya dibagikan kembali kepada rakyat.
Hari itu tiba. Alun-alun penuh dengan orang. Sang raja mengalungkan hadiah itu kepada putrinya, seraya berkata bahwa inilah wujud cinta seluruh rakyat.
Gilang Rukmini melihat kalung itu sebentar dan mengerutkan kening.
“Ini jelek! Aku tidak mau memakainya!”
Ia merenggut kalung itu dan melemparkannya ke lantai. Untaian itu putus, dan permata-permata bergulir ke segala arah.
Tak ada yang bersuara. Ratu Purbamanah menutup wajahnya dan menangis. Melihat itu, para dayang ikut menangis, lalu para abdi, lalu seluruh rakyat di alun-alun. Tangis itu seolah tak bisa dihentikan.
Tiba-tiba dari tanah tempat kalung itu jatuh, air mulai memancar. Mula-mula hanya rembesan, lalu semakin deras. Bumi seakan ikut berduka. Air naik memenuhi halaman istana, menggenangi jalan, dan terus meluap hingga seluruh kerajaan tenggelam.
Ketika air berhenti naik, yang tersisa hanya sebuah telaga. Penduduk sekitar percaya warna-warni di permukaannya berasal dari permata kalung sang putri yang berserakan di dasar. Karena itulah tempat itu dinamakan Telaga Warna.
💖 Pesan Moral
- Memanjakan anak bisa menjadi kekejaman yang manis. Gilang Rukmini tak pernah diajari berkata terima kasih.
- Nilai hadiah ada pada pengorbanan pemberinya. Yang dilempar sang putri adalah kerja keras dan kasih sayang orang banyak.
- Kata-kata kasar bisa menghancurkan dalam sekejap apa yang dibangun bertahun-tahun.
Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari legenda Telaga Warna, Puncak, Jawa Barat; salah satu versi. Telaga dengan nama sama di Dieng, Jawa Tengah, adalah tempat yang berbeda.