Gudang Inspirasi Hidup
Inspirasi

Matahari dan Bulan, Kakak Beradik Korea

3 menit baca

Irworobongdo, lukisan matahari, bulan, dan lima puncak dari istana Joseon. Gambar: Unknown author Unknown author · Public domain · sumber

Seorang janda miskin tinggal di balik gunung bersama dua anaknya, seorang lelaki dan adik perempuannya. Untuk menghidupi mereka, ia bekerja di rumah orang kaya di desa seberang. Suatu sore ia pulang melewati jalan gunung, dengan sebakul kue beras di kepala sebagai upah hari itu.

Di tikungan pertama seekor harimau menghadang.

“Beri aku satu kue, maka aku tak akan memakanmu.”

Ia memberikannya. Di tikungan kedua harimau yang sama sudah menunggu dengan permintaan yang sama. Begitu seterusnya, sampai bakulnya kosong. Di tikungan terakhir, harimau itu tak lagi meminta kue, dan sang ibu tidak pernah sampai ke rumah.

Harimau lalu mengenakan pakaian perempuan itu dan berjalan ke rumahnya. Hari sudah gelap. Ia mengetuk pintu.

“Anak-anakku, buka pintu. Ibu pulang.”

Si kakak mendengar suara itu dan mengerutkan dahi. “Suara Ibu tidak seperti itu.”

“Ibu kedinginan, jadi serak.”

“Kalau begitu, tunjukkan tanganmu.”

Sebuah kaki berbulu menyelinap lewat celah pintu. Anak-anak itu ketakutan, tetapi si kakak berpikir cepat. Sambil berkata hendak ke kamar kecil, ia menggandeng adiknya keluar lewat pintu belakang, lalu memanjat pohon tinggi di dekat sumur.

Tak lama kemudian harimau menemukan mereka dengan melihat bayangannya di air sumur. “Bagaimana cara kalian naik?” tanyanya manis.

“Olesi pohonnya dengan minyak wijen,” jawab si kakak. Harimau menurut, dan terus tergelincir. Si adik yang masih kecil tertawa dan keceplosan, “Pakai kapak, dong! Buat takik di batangnya!”

Harimau pun mulai naik. Kedua anak itu mendongak dan berdoa. “Langit, kalau Engkau mau menolong kami, turunkanlah tali yang kuat.”

Dari langit turun seutas tali. Mereka bergelantung dan terangkat ke atas. Harimau meniru doa itu, dan tali lain turun untuknya. Namun tali itu sudah lapuk. Di tengah jalan ia putus, dan harimau jatuh ke ladang sorgum. Konon, sejak itu batang sorgum memiliki bercak merah.

Sampai di langit, keduanya diberi tugas. Si kakak akan menjadi matahari dan menerangi siang, sedangkan si adik menjadi bulan dan menerangi malam. Namun adiknya yang mungil itu gemetar. “Aku takut gelap, Kak. Malam itu menyeramkan.”

Kakaknya memandang wajah adiknya, lalu berkata lembut, “Kalau begitu kita bertukar. Kamu yang siang, aku yang malam.”

Maka si adik menjadi matahari, dan si kakak menjadi bulan. Mula-mula ia malu orang-orang memandanginya, jadi ia memancarkan cahaya sekuat-kuatnya, sampai tak seorang pun sanggup menatapnya lama-lama. Dan di malam yang paling gelap, sang kakak masih berjaga di atas sana.

💖 Pesan Moral

  • Waspadai suara manis di balik pintu. Periksa dulu sebelum percaya, seperti yang dilakukan si kakak.
  • Tuntutan orang rakus tak pernah cukup. Kue pertama hanya menjadi awal permintaan berikutnya.
  • Kasih saudara tampak dalam hal kecil. Sang kakak memilih menanggung malam agar adiknya tak perlu takut.

Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari salah satu versi cerita rakyat Korea tentang kakak beradik yang menjadi matahari dan bulan; versi lain membalik peran atau jumlah saudaranya.