Gudang Inspirasi Hidup
Inspirasi

Putri Tangguk dan Padi yang Disia-siakan

3 menit baca

Hamparan sawah di kaki pegunungan Sumatra, mengingatkan pada padi yang disia-siakan Putri Tangguk. Gambar: Happywu · CC BY-SA 4.0 · sumber

Sawah keluarga Putri Tangguk hanya seluas tangguk, alat penangkap ikan dari anyaman bambu. Orang lain mungkin akan menertawakannya. Namun tanah sekecil itu punya keajaiban: padinya tumbuh sangat cepat, dan setiap hari selalu ada yang bisa dipanen.

Bersama suami dan ketujuh anaknya, Putri Tangguk tidak pernah kekurangan beras. Setiap pagi ia berangkat ke sawah, setiap petang pulang dengan padi. Tetangga kampung iri melihat keberuntungan itu.

Tetapi yang namanya berkah setiap hari lama-lama terasa seperti pekerjaan yang tak ada habisnya. Putri Tangguk mulai mengeluh. Anak-anaknya tidak terurus. Ia hampir tidak pernah bertemu tetangga. Hidupnya habis di pematang.

“Bagaimana kalau kita panen besar-besaran sekali saja?” katanya kepada suaminya suatu malam. “Kita penuhi lumbung, supaya tidak perlu ke sawah setiap hari.”

Suaminya setuju. Rencana itu masuk akal. Keesokan paginya, setelah hujan reda, mereka berangkat membawa peralatan. Jalan menuju sawah basah dan licin. Di sebuah turunan, kaki Putri Tangguk tergelincir dan ia jatuh terduduk di lumpur.

Ia bangun dengan pinggang sakit dan hati panas. Ia memaki jalan itu keras-keras.

“Awas kau! Nanti akan kutaburi padi, supaya aku tak pernah terpeleset lagi!”

Suaminya mengira itu hanya amarah sesaat. Mereka memanen seluruh padi hari itu sampai lumbung hampir penuh. Dalam perjalanan pulang, saat tiba di turunan licin tadi, Putri Tangguk menurunkan bakulnya. Dengan muka puas ia menggenggam padi hasil panennya, lalu menaburkannya di jalan seperti orang menabur pasir. Butir-butir itu terinjak ke dalam lumpur.

Hari-hari berikutnya ia tidak lagi ke sawah. Ia kini sibuk menenun, dan anak-anaknya tetap tidak terurus. Lumbungnya penuh, jadi apa lagi yang perlu dicemaskan?

Beberapa waktu kemudian, pada suatu malam, anak sulungnya merengek minta makan.

“Ambil sendiri di lumbung, masak sendiri,” jawab ibunya tanpa berpaling dari tenunan.

Anak itu kembali dengan wajah bingung. “Lumbungnya kosong, Bu.”

Putri Tangguk terperanjat. Ia membangunkan suaminya dan berlari ke lumbung, lalu ke sawah kecil mereka, dengan pelita gemetar di tangan. Tidak ada satu pun batang padi di sana. Tanah yang dulu tak pernah berhenti memberi itu kini hanya ditumbuhi ilalang.

Malam itu ketujuh anak tersebut tidur dengan perut lapar. Putri Tangguk berbaring dengan mata terbuka, sampai akhirnya tertidur juga. Dalam mimpinya, muncul seorang kakek tua.

“Padi di tanahmu tidak akan tumbuh lagi,” kata kakek itu. “Di antara butir yang kaubuang di jalan, ada raja dari semua padi. Rakyatnya melihat bagaimana ia diperlakukan, dan mereka tidak mau lagi tinggal bersamamu.”

Ia terbangun dan menangis. Ia ingat turunan licin itu, dan tangannya sendiri yang menabur. Selama bertahun-tahun ia mengeluh karena terlalu banyak panen. Baru kini ia tahu seperti apa rasanya tidak ada yang bisa dipanen.

💖 Pesan Moral

  • Jangan mengeluhkan berkah hanya karena ia datang setiap hari. Yang rutin mudah terasa biasa sampai ia menghilang.
  • Makanan bukan barang sepele. Sebutir nasi adalah kerja tanah, air, dan tangan manusia.
  • Marah sebaiknya tidak dilampiaskan pada apa yang menghidupi kita. Amarah sehari itu dibayar dengan lapar yang panjang.

Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari salah satu versi cerita rakyat Jambi yang juga dikenal di Kerinci.