Gudang Inspirasi Hidup
Inspirasi

Hans yang Beruntung

3 menit baca

Hans dan rangkaian tukar-menukarnya yang terus merugi, tetapi hatinya ringan. Gambar: Paul Hey · Public domain · sumber

Hans telah bekerja selama tujuh tahun pada seorang majikan. Suatu hari ia berkata, “Tuan, masa kerja saya sudah selesai. Saya ingin pulang menemui ibu saya. Berikanlah upah saya.” Majikannya menjawab, “Kau telah melayaniku dengan setia dan jujur. Begitulah kerjamu, begitu pula upahmu.” Ia memberi Hans sebongkah emas sebesar kepala Hans sendiri.

Hans membungkus emas itu dengan sapu tangan, memanggulnya, dan berangkat pulang. Tetapi emas itu sangat berat. Bahunya pegal dan ia berjalan terseok-seok. Lalu ia melihat seorang penunggang kuda melintas dengan riang.

“Alangkah enaknya naik kuda!” seru Hans. “Duduk seperti di kursi, tidak tersandung batu, dan sepatu tidak cepat rusak.” Penunggang itu menawarkan, “Bagaimana kalau kita bertukar? Kudaku untuk bongkahanmu.” Hans setuju dengan gembira.

Tetapi kuda itu terlalu liar. Hans terlempar ke parit. Seorang petani yang lewat menuntun sapi berhasil menangkap kudanya. “Sapi lebih tenang,” pikir Hans, “dan bisa memberi susu, mentega, dan keju setiap hari.” Ia pun menukar kudanya dengan sapi itu, dan petani itu cepat-cepat pergi sebelum Hans berubah pikiran.

Udara panas. Hans haus dan mencoba memerah sapi itu, tetapi sapi tua itu tidak keluar susunya, malah menendang kepala Hans. Seorang tukang daging lewat dengan seekor babi muda. “Daging babi enak sekali, belum lagi sosisnya!” pikir Hans. Sapi pun ditukar dengan babi.

Tak lama ia bertemu seorang pemuda membawa angsa putih. Pemuda itu berbisik bahwa babi Hans mungkin babi curian dari desa sebelah, dan orang-orang sedang mencarinya. Hans ketakutan, lalu menukar babinya dengan angsa. “Angsa ini bisa dipanggang, dan bulunya bisa diisi ke bantal,” katanya puas.

Di desa terakhir ia bertemu seorang pengasah gunting yang bernyanyi riang sambil memutar batu asahnya. “Kau pasti kaya, ya, kalau bisa bernyanyi sebahagia itu?” tanya Hans. “Pengasah gunting tidak pernah kekurangan uang,” jawabnya. “Berikan angsamu, dan kau dapat batu asahku. Plus sebuah batu biasa untuk meluruskan paku.” Hans menerimanya dengan girang.

Tetapi kedua batu itu berat sekali. Hans lelah dan haus. Ia berhenti di sebuah sumur dan meletakkan batu-batu itu di tepinya. Ketika ia membungkuk hendak minum, tanpa sengaja batu-batu itu tersenggol dan tercebur ke dalam sumur, tenggelam ke dasar.

Hans memandangi air sumur itu, lalu melompat kegirangan. Ia berlutut dan bersyukur dengan mata berlinang. “Terima kasih, Tuhan, aku dibebaskan dari batu-batu berat itu! Tak ada orang yang seberuntung aku di bawah matahari!”

Dengan hati ringan dan tangan kosong, Hans berlari pulang hingga tiba di rumah ibunya.

Banyak orang menertawakan Hans. Ia bodoh, katanya, karena menukar emas dengan batu dan akhirnya pulang tanpa apa-apa. Tetapi coba perhatikan: di setiap pertukaran Hans tidak pernah menyesal. Ia selalu merasa beruntung. Ia pulang ke ibunya dengan hati bebas, sementara banyak orang kaya justru tidak bisa tidur karena takut kehilangan hartanya.

💖 Pesan Moral

  • Kebahagiaan tidak selalu sebanding dengan banyaknya harta. Kadang harta justru menjadi beban yang memberatkan.
  • Bersyukur dalam setiap keadaan membuat hati selalu ringan.
  • Namun, tetaplah waspada: tidak semua orang yang menawarkan pertukaran berniat baik.

Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari dongeng Grimm Bersaudara, “Hans yang Beruntung” atau Hans im Glück (Kinder- und Hausmärchen no. 83, 1819).