Pintu Surga dan Pintu Neraka
Pedang yang terhunus karena amarah, pintu neraka yang terbuka. Gambar: Katsukawa Shunshō · CC0 · sumber
Seorang samurai bernama Nobushige datang menemui guru Zen Hakuin. Ia prajurit yang gagah, terbiasa bertarung, dan tidak takut mati. Namun ada satu pertanyaan yang terus mengganggunya.
“Guru,” katanya, “benarkah surga dan neraka itu ada?”
Hakuin memandangnya dari ujung kepala sampai ujung kaki.
“Siapa kau?” tanyanya.
“Saya seorang samurai,” jawab Nobushige dengan bangga, menegakkan punggungnya.
“Kau? Samurai?” Hakuin tertawa kecil. “Penguasa macam apa yang mau mempekerjakanmu sebagai pengawal? Wajahmu lebih mirip pengemis.”
Darah Nobushige langsung naik ke kepala. Wajahnya memerah, tangannya meraih gagang pedang.
Hakuin justru melanjutkan dengan santai. “Oh, jadi kau punya pedang? Aku yakin pedangmu pun terlalu tumpul untuk memotong kepalaku.”
Habis sudah kesabaran sang samurai. Dengan teriakan marah ia mencabut pedangnya dan mengangkatnya tinggi-tinggi, siap menebas orang tua di depannya.
Pada saat itu Hakuin berkata dengan suara tenang namun tegas:
“Di sinilah pintu neraka terbuka.”
Nobushige tertegun. Pedangnya berhenti di udara. Ia menyadari apa yang baru saja terjadi: amarah telah menguasainya sepenuhnya, dan dalam sekejap ia hampir membunuh seorang guru yang hanya menjawab pertanyaannya. Perlahan ia menurunkan pedangnya, menyarungkannya kembali, lalu membungkuk dalam-dalam di hadapan Hakuin.
“Di sinilah,” kata Hakuin dengan lembut, “pintu surga terbuka.”
Hakuin tidak memberi ceramah panjang tentang alam setelah kematian. Ia membuat Nobushige mengalaminya sendiri. Neraka adalah saat kita dikuasai amarah, kesombongan, dan kebencian. Surga adalah saat kita sadar, mau mengakui kesalahan, dan kembali tenang.
Pintu-pintu itu tidak jauh. Keduanya ada di dalam diri kita, dan kita membuka salah satunya setiap kali kita memilih bagaimana menanggapi hinaan, kekecewaan, atau ketidakadilan.
Lain kali ketika seseorang menyinggung perasaan kita, dan rasanya darah naik ke kepala, kita bisa mengingat kisah ini. Ada jeda sesaat antara hinaan dan tanggapan kita. Di dalam jeda itulah kita menentukan pintu mana yang akan kita buka.
💖 Pesan Moral
- Amarah yang tak terkendali membuka pintu neraka bagi diri sendiri dan orang di sekitar kita.
- Kesadaran dan kerendahan hati untuk berhenti adalah pintu menuju ketenangan.
- Kita tidak selalu bisa memilih apa yang terjadi, tetapi kita bisa memilih pintu mana yang kita buka.
Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari anekdot Zen tentang Hakuin Ekaku dan samurai Nobushige, yang dikenal luas dengan judul “The Gates of Paradise” dalam kumpulan 101 Zen Stories susunan Nyogen Senzaki dan Paul Reps.