Gudang Inspirasi Hidup
Inspirasi

Yu Gong Memindahkan Gunung (愚公移山)

3 menit baca

"Yu Gong Memindahkan Gunung" (愚公移山), lukisan Xu Beihong tahun 1940. Keluarga Yu Gong menggali gunung keranjang demi keranjang. Gambar: Xu Beihong · Public domain · sumber

Dahulu kala, di sebelah utara dua gunung besar bernama Taihang dan Wangwu, hiduplah seorang kakek yang dijuluki Yu Gong, artinya “Pak Tua yang Bodoh”. Usianya sudah hampir sembilan puluh tahun. Rumahnya tepat menghadap kedua gunung itu, sehingga setiap kali keluarganya hendak pergi ke kota di seberang, mereka harus berjalan memutar sangat jauh.

Suatu malam Yu Gong mengumpulkan seluruh keluarganya. “Bagaimana kalau kita ratakan saja kedua gunung ini, supaya ada jalan lurus ke selatan?” tanyanya.

Anak-anak dan cucunya bersorak setuju. Hanya istrinya yang ragu. “Dengan tenagamu yang sekarang, bukit kecil pun belum tentu bisa kau ratakan. Lagi pula, mau dibuang ke mana tanah dan batu sebanyak itu?”

“Kita buang ke tepi Laut Bohai,” jawab mereka serempak.

Maka keesokan harinya Yu Gong berangkat bersama anak dan cucu-cucunya yang kuat. Mereka memecah batu, menggali tanah, lalu mengangkutnya dalam keranjang ke tepi laut. Seorang anak tetangga, yatim berumur tujuh atau delapan tahun, ikut melompat-lompat membantu. Satu kali perjalanan pulang-pergi ke laut makan waktu berbulan-bulan.

Di tepi sungai tinggal seorang lelaki tua lain yang merasa dirinya pintar. Namanya Zhi Sou, “Pak Tua yang Bijak”. Ia tertawa melihat kesibukan itu. “Kau ini sungguh keterlaluan bodohnya! Sisa umurmu tinggal sedikit, tenagamu tinggal sedikit. Sehelai rumput di gunung pun belum tentu bisa kau cabut habis, apalagi tanah dan batunya!”

Yu Gong menghela napas panjang. “Pikiranmu itulah yang keras dan tertutup, bahkan kalah dari anak yatim yang membantu kami. Memang aku akan mati. Tapi aku punya anak. Anakku punya cucu. Cucuku akan punya anak lagi, dan anaknya punya anak lagi. Keturunanku tidak akan habis, sedangkan gunung ini tidak akan bertambah tinggi. Mengapa harus takut tidak bisa meratakannya?”

Zhi Sou terdiam. Ia tidak menemukan satu kata pun untuk membantah.

Kisah ini berlanjut dengan cara khas dongeng Tiongkok kuno. Dewa ular yang menjaga gunung mendengar percakapan itu dan menjadi cemas, karena ia tahu Yu Gong tidak akan pernah berhenti. Ia melapor kepada Kaisar Langit. Sang Kaisar terharu oleh ketulusan si kakek, lalu memerintahkan dua putra raksasa Kua’e untuk memanggul kedua gunung itu dan memindahkannya jauh ke tempat lain. Sejak itu, tak ada lagi gunung yang menghalangi jalan keluarga Yu Gong.

Dari kisah inilah lahir peribahasa 愚公移山 (Yú Gōng yí shān), “Yu Gong memindahkan gunung”. Peribahasa ini dipakai untuk memuji tekad yang tidak tergoyahkan, terutama untuk pekerjaan besar yang tampak mustahil bila dilihat dari satu generasi saja.

Yang menarik, orang yang dijuluki “bodoh” justru yang berpikir paling jauh ke depan, sedangkan yang dijuluki “bijak” hanya bisa menghitung tenaga hari ini.

💖 Pesan Moral

  • Pekerjaan besar diselesaikan oleh langkah-langkah kecil yang tidak berhenti. Satu keranjang tanah setiap hari pada akhirnya meratakan gunung.
  • Berpikirlah melampaui diri sendiri. Apa yang kita mulai hari ini bisa dilanjutkan oleh anak dan cucu kita.
  • Jangan cepat menertawakan tekad orang lain. Yang tampak bodoh kadang justru melihat lebih jauh.

Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari kisah “Yu Gong Memindahkan Gunung” dalam kitab Liezi, bab “Tang Wen”, karya klasik Taois Tiongkok (sekitar abad ke-4 SM, disusun ulang pada abad-abad berikutnya).