Kisa Gotami dan Segenggam Biji Sawi
Kisa Gotami membawa jasad anaknya kepada Sang Buddha (relief di Buddhavanam, Telangana, India). Gambar: Anandajoti · CC BY-SA 4.0 · sumber
Di kota Savatthi, pada zaman Sang Buddha, hiduplah seorang perempuan muda bernama Gotami. Tubuhnya kurus, sehingga orang-orang memanggilnya Kisa Gotami, “Gotami yang kurus”. Ia berasal dari keluarga miskin dan sering diremehkan oleh keluarga suaminya, sampai suatu hari ia melahirkan seorang anak laki-laki. Sejak itu ia dihormati. Anak itu menjadi seluruh dunianya.
Namun ketika anaknya baru belajar berjalan, anak itu jatuh sakit dan meninggal. Kisa Gotami tidak sanggup menerimanya. Ia menggendong jasad kecil itu di pinggangnya dan berjalan dari rumah ke rumah.
“Tolonglah, adakah obat untuk anakku?”
Orang-orang menatapnya dengan iba, sebagian lagi menertawakannya. “Anak itu sudah meninggal. Obat apa yang kau cari?” Tetapi Kisa Gotami terus berjalan, karena di hatinya ia belum mau melepaskan.
Akhirnya seorang lelaki bijak berkata kepadanya, “Aku tidak punya obatnya, tetapi aku tahu siapa yang mungkin punya. Pergilah kepada Sang Buddha.”
Kisa Gotami datang ke hadapan Sang Buddha dan memohon obat untuk anaknya. Sang Buddha menatapnya dengan lembut dan berkata, “Baiklah. Bawakan aku segenggam biji sawi. Tetapi biji sawi itu harus berasal dari rumah yang belum pernah ada seorang pun meninggal di dalamnya.”
Harapan menyala di mata Kisa Gotami. Biji sawi adalah bumbu dapur yang ada di hampir setiap rumah. Ia segera berangkat.
Di rumah pertama, pemiliknya dengan senang hati mengambilkan biji sawi. “Tapi, apakah pernah ada yang meninggal di rumah ini?” tanya Kisa Gotami. Pemilik rumah itu terdiam, lalu menjawab, “Ayahku meninggal tahun lalu.”
Di rumah kedua, seorang ibu bercerita tentang suaminya yang telah tiada. Di rumah ketiga, seorang kakek mengenang istrinya. Di rumah berikutnya, ada anak yang kehilangan saudaranya, ada keluarga yang masih berduka atas pembantu yang mereka sayangi. Rumah demi rumah, jawabannya selalu sama.
Menjelang senja, Kisa Gotami duduk di tepi jalan. Tangannya kosong, tetapi hatinya mulai terang. Ia akhirnya mengerti apa yang ingin ditunjukkan Sang Buddha: kematian bukan kemalangan yang hanya menimpa dirinya. Ia adalah bagian dari kehidupan setiap keluarga, di setiap rumah, di seluruh kota.
Ia membawa anaknya ke tempat pemakaman dan mengucapkan selamat tinggal dengan penuh kasih. Lalu ia kembali kepada Sang Buddha.
“Sudahkah engkau mendapatkan biji sawi itu?” tanya Sang Buddha.
“Tidak, Guru. Tetapi aku sudah menemukan apa yang sebenarnya kucari. Aku tidak sendirian dalam kehilangan.”
Menurut kisahnya, Kisa Gotami kemudian menjadi seorang bhikkhuni dan dikenal sebagai salah satu murid perempuan yang paling tekun. Dukanya tidak hilang begitu saja, tetapi berubah menjadi pemahaman dan welas asih kepada orang lain yang sedang berduka.
💖 Pesan Moral
- Kehilangan adalah bagian dari hidup semua orang. Menyadari bahwa kita tidak sendirian bisa menjadi awal dari penyembuhan.
- Orang yang berduka sering kali tidak butuh ceramah, melainkan didampingi sampai ia menemukan sendiri jalannya untuk menerima.
- Duka yang dipahami dapat berubah menjadi welas asih kepada sesama yang mengalami luka yang sama.
Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari kisah Kisa Gotami dalam tradisi Buddhis Theravada, sebagaimana dicatat dalam kitab komentar Dhammapada (Dhammapadatthakatha) dan komentar Therigatha.