Gudang Inspirasi Hidup
Inspirasi

Tiga Pertapa

3 menit baca

Biara Solovetsk di Laut Putih, tujuan pelayaran sang uskup dalam kisah Tolstoy. Gambar: Иерей Максим Массалитин · CC BY-SA 2.0 · sumber

Kapal itu berlayar dari Arkhangelsk menuju Biara Solovetsk, penuh peziarah. Cuaca cerah dan angin bersahabat. Seorang uskup yang ikut berlayar sedang berjalan di geladak ketika ia melihat sekelompok orang mengerumuni seorang nelayan yang menunjuk ke laut.

“Di sana ada pulau kecil,” kata nelayan itu. “Tiga pertapa tinggal di situ demi keselamatan jiwa mereka.”

Nelayan itu pernah terdampar di sana. Tiga orang tua memberinya makan, mengeringkan pakaiannya, dan membantu memperbaiki perahunya. Yang pertama kecil dan bungkuk, tua sekali, dan selalu tersenyum. Yang kedua lebih tinggi dan kuat. Yang ketiga jangkung, berjanggut putih sampai ke lutut, hanya bersarung tikar. Mereka nyaris tak pernah berbicara.

Sang uskup ingin melihat mereka sendiri. Nakhoda berusaha mencegah: mereka hanya orang tua bodoh yang tak mengerti apa-apa, buang-buang waktu saja. Tetapi uskup itu berkeras dan bersedia membayar. Kapal pun melempar sauh, dan ia didayung ke pantai.

Tiga orang tua itu berdiri bergandengan tangan. Mereka membungkuk ketika diberkati.

“Bagaimana kalian berdoa kepada Tuhan?” tanya sang uskup.

Pertapa tertua tersenyum. “Kami berdoa begini: Tiga Engkau, tiga kami, kasihanilah kami.”

Ketiganya menengadah dan mengulang kalimat itu bersama-sama. Sang uskup tersenyum juga. Ia menjelaskan bahwa niat mereka baik, tetapi cara itu keliru. Ia akan mengajarkan doa yang benar, Doa Bapa Kami, seperti yang diperintahkan Kitab Suci.

Pekerjaan itu ternyata berat. Seharian penuh sang uskup duduk di atas batu, mengucapkan setiap kata dua puluh, tiga puluh, seratus kali. Pertapa yang jangkung terhalang kumisnya. Yang tertua tak punya gigi dan menggumam saja. Mereka salah, dibetulkan, lalu mulai lagi. Baru menjelang gelap, ketika bulan muncul dari balik air, ketiganya bisa mengucapkan doa itu sendiri.

Sang uskup kembali ke kapal dengan hati puas. Dari perahu ia masih mendengar tiga suara tua itu berdoa keras-keras, makin lama makin jauh. Kapal berlayar lagi. Para peziarah tertidur. Ia duduk sendirian di buritan, bersyukur telah diutus mengajar orang-orang saleh itu.

Tiba-tiba ia melihat sesuatu yang putih berkilau di jalur cahaya bulan. Burung camar? Layar perahu kecil? Benda itu mendekat dengan cepat sekali.

Juru mudi melepaskan kemudi dengan wajah pucat. “Ya Tuhan! Para pertapa itu berlari di atas air, seolah-olah di tanah kering!”

Semua orang terbangun dan berkerumun di buritan. Tiga orang tua itu datang bergandengan tangan, meluncur di atas air tanpa menggerakkan kaki. Sebelum kapal sempat berhenti, mereka sudah sampai dan berkata serempak:

“Hamba Allah, kami lupa ajaranmu. Selama kami terus mengucapkannya, kami ingat. Begitu berhenti sebentar, satu kata hilang, dan sekarang semuanya berantakan. Ajari kami lagi.”

Sang uskup membuat tanda salib, lalu membungkuk di sisi kapal.

“Doa kalian sendiri pasti sampai kepada Tuhan, wahai orang-orang saleh. Bukan aku yang pantas mengajari kalian. Doakanlah kami, orang-orang berdosa ini.”

Ia bersujud di kaki ketiga orang tua itu. Mereka berhenti, berbalik, dan kembali menyeberangi laut. Sampai fajar, cahaya masih tampak di tempat mereka menghilang.

💖 Pesan Moral

  • Tulusnya hati tidak diukur dari bagusnya kata-kata. Doa sederhana yang lahir dari kerendahan hati punya nilai tersendiri.
  • Hati-hati merasa paling tahu. Sang uskup datang untuk mengajar dan pulang sebagai murid.
  • Jangan meremehkan orang karena tampilannya. Yang disebut bodoh oleh nakhoda justru membuat seisi kapal terpana.
  • Berani mengakui kekeliruan di depan orang banyak adalah tanda ilmu yang matang.

Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari cerita pendek Leo Tolstoy, “Tiga Pertapa” (terbit 1886), yang menurut Tolstoy berasal dari legenda lama daerah Volga.