Mencurigai Tetangga Mencuri Kapak (疑邻盗斧)
"Penebang Kayu Pulang ke Rumah", lukisan Dinasti Song Selatan. Kehidupan desa sederhana, tempat sebuah kapak hilang bisa menimbulkan prasangka. Gambar: Pelukis anonim, Dinasti Song Selatan · CC0 · sumber
Seorang lelaki desa kehilangan kapaknya. Pagi itu ia mencarinya ke mana-mana: di gudang, di dapur, di bawah tumpukan kayu bakar, tetapi kapak itu tidak ditemukan.
Sambil menggerutu, ia berdiri di depan rumah. Saat itulah ia melihat anak tetangganya lewat.
Tiba-tiba sebuah pikiran muncul di kepalanya. “Jangan-jangan anak itu yang mengambil kapakku.”
Sejak pikiran itu muncul, ia mulai memperhatikan anak tetangga itu dengan saksama. Dan anehnya, semua yang dilakukan anak itu tampak mencurigakan.
Cara anak itu berjalan, menurutnya seperti pencuri kapak. Raut wajahnya, seperti pencuri kapak. Cara ia berbicara dan menyapa, juga seperti pencuri kapak. Ketika anak itu menunduk, ia menganggapnya merasa bersalah. Ketika anak itu tersenyum, ia menganggapnya sedang mengejek. Setiap gerak-gerik, setiap tingkah laku, tidak ada satu pun yang tidak mirip dengan seorang pencuri kapak.
“Pasti dia,” gumamnya yakin. “Tidak salah lagi.”
Beberapa hari kemudian, lelaki itu pergi ke ladang untuk menggali parit. Ketika cangkulnya menyentuh tanah di dekat tumpukan jerami, ia mendengar bunyi besi beradu. Ia menggali lebih dalam, dan di sanalah, tertimbun tanah, tergeletak kapaknya yang hilang. Rupanya ia sendiri yang meninggalkannya di ladang beberapa hari yang lalu, lalu tertutup tanah dan jerami.
Lelaki itu memungut kapaknya dan pulang dengan perasaan campur aduk.
Esok harinya, ia kembali melihat anak tetangganya lewat. Ia memperhatikannya lagi. Cara anak itu berjalan, sama sekali tidak seperti pencuri kapak. Raut wajahnya, tidak seperti pencuri kapak. Cara bicaranya, gerak-geriknya, tingkah lakunya, tidak ada satu pun yang menunjukkan bahwa ia seorang pencuri.
Anak itu tidak berubah sedikit pun. Yang berubah hanyalah cara lelaki itu memandangnya.
Kisah singkat ini tercatat dalam kitab Liezi dan juga dalam Lüshi Chunqiu. Dari sinilah lahir peribahasa 疑邻盗斧 (yí lín dào fǔ), “mencurigai tetangga mencuri kapak”. Peribahasa ini dipakai untuk menggambarkan bagaimana prasangka bisa membuat kita melihat kesalahan di mana-mana, padahal kesalahan itu hanya ada di dalam pikiran kita sendiri.
Ilmu psikologi modern punya istilah untuk hal ini, yaitu bias konfirmasi: begitu kita yakin akan sesuatu, kita cenderung hanya melihat bukti yang mendukung keyakinan itu. Orang Tiongkok kuno ternyata sudah memahaminya lebih dari dua ribu tahun yang lalu.
💖 Pesan Moral
- Prasangka mewarnai cara kita melihat orang. Periksa fakta sebelum menuduh.
- Kesalahan sering kali ada pada diri kita sendiri, bukan pada orang yang kita curigai.
- Berikan orang lain kesempatan untuk dinilai dengan adil, seperti kita ingin diperlakukan.
Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari kitab Liezi, bab “Shuo Fu”, dengan versi serupa dalam Lüshi Chunqiu, bab “Qu You”, asal-usul peribahasa 疑邻盗斧.