Si Luncai dan Labu-labunya
Buah labu di ladang, jenis buah yang menjadi pelampung dalam kisah Si Luncai. Gambar: Forest and Kim Starr · CC BY 3.0 · sumber
Si Luncai bukan orang berpangkat, tetapi ia punya mulut yang tak pernah bisa diam. Di hadapan siapa pun, termasuk Raja dan para pembesarnya, ia suka melontarkan ejekan, dan ejekannya selalu tepat sasaran. Orang di pasar tertawa. Orang di istana tidak.
Suatu hari kata-katanya sudah terlalu jauh. Ia menyindir Raja dan para menteri di depan orang banyak. Raja murka bukan main, lalu menjatuhkan hukuman. Si Luncai harus dimasukkan ke dalam karung, dibawa ke tengah laut dengan sampan, dan dibuang di sana.
Pengawal-pengawal menangkapnya. Si Luncai dimasukkan ke dalam karung, lalu diangkut ke sampan. Beberapa labu air yang besar juga ada di dalam sampan itu, bagian dari muatan yang dibawa para pendayung. Dalam karung yang gelap, Si Luncai sudah mulai berpikir.
Sampan bergerak meninggalkan pantai. Para pendayung kelihatan lesu karena panas dan perjalanan yang jauh. Dari dalam karung, terdengar suara.
“Hai, kawan-kawan. Berat sekali kelihatannya pekerjaan kalian. Maukah kalian kuajari sebuah lagu? Mendayung sambil bernyanyi, tahu-tahu sudah sampai.”
Para pendayung saling pandang. Tak ada ruginya, pikir mereka. Si Luncai minta ikatan karung dilonggarkan sedikit supaya suaranya terdengar, lalu mulai bernyanyi.
“Biarkan, biarkan! Si Luncai terjun dengan labu-labunya, biarkan!”
Lagunya gampang dan riang. Para pendayung segera ikut. Mereka membagi diri menjadi dua kelompok, kelompok yang satu bersahut dengan kelompok yang lain, makin lama makin keras, sambil menepuk badan sampan mengikuti irama. Lelah mereka hilang. Mata mereka mulai terpejam nikmat, kepala terangguk-angguk. Mereka begitu asyik sehingga tak ada yang memperhatikan isi lagunya sendiri.
Pelan-pelan Si Luncai keluar dari karung. Ia memasukkan labu-labu ke dalamnya sebagai ganti tubuhnya, menyisakan dua untuk dirinya, dan mengikat karung itu kembali. Lalu, tepat seperti yang dinyanyikan semua orang, ia meluncur ke laut dengan sebuah labu di bawah masing-masing lengan.
“Biarkan, biarkan!” teriak para pendayung sepenuh hati, menyaksikan orang itu berkecipak menjauh di belakang sampan tanpa benar-benar melihatnya.
Setibanya di tengah laut, para pengawal mengangkat karung yang berat itu dan menjatuhkannya ke air. Karung itu tidak tenggelam dengan cara yang mereka harapkan, tetapi mereka sudah terlalu letih untuk memikirkannya. Mereka pulang dan melapor bahwa perintah telah dilaksanakan.
Raja dan para pembesar merasa lega. Sementara itu, jauh di pantai yang lain, Si Luncai naik ke darat dengan dua buah labu, dan tak lama kemudian mulutnya sudah kembali bekerja.
Sampai sekarang, orang Melayu masih memakai ungkapan “biarkan si Luncai terjun dengan labu-labunya” untuk sikap tak mau ambil pusing terhadap orang yang berkeras dengan caranya sendiri.
💖 Pesan Moral
- Dalam keadaan paling buruk pun otak masih bisa bekerja. Si Luncai tak punya apa-apa selain suara, dan itu cukup.
- Lidah tajam mengundang bahaya. Akal yang menyelamatkannya adalah akal yang sama yang menjerumuskannya.
- Tugas yang dikerjakan tanpa perhatian mudah dibelokkan. Para pendayung menyanyikan rencana pelarian orang itu keras-keras, tanpa sadar.
Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari salah satu versi cerita jenaka Melayu tentang Si Luncai, yang pernah dibukukan bersama kisah Pak Pandir dan Lebai Malang oleh R.O. Winstedt dan A.J. Sturrock.