Pak Belalang dan Teka-Teki Raja
Belalang dalam gambar ilmu alam lama. Serangga inilah isi tabung teka-teki pertama. Gambar: Free Public Domain Illustrations by rawpixel · CC BY 2.0 · sumber
Kemasyhuran bisa menjadi perkara berat, dan Pak Belalang segera merasakannya. Pada suatu hari, sebuah kapal besar berlabuh di muara. Raja dari negeri seberang turun dengan angkuh dan menantang Raja Indera Tanjung. Ia akan mengajukan tiga teka-teki. Bila Raja Indera Tanjung kalah, negerinya menjadi taruhan. Bila menang, ia boleh mengambil semua harta di kapal.
Teka-tekinya aneh. Pertama, hewan apa di dalam tabung tertutup ini, yang terbang tetapi bukan burung, melompat tetapi bukan katak? Kedua, berapa biji di dalam dua buah mentimun ini? Ketiga, sebatang kayu yang dipotong sama rata di kedua ujungnya: mana pangkal, mana ujung?
Raja Indera Tanjung pucat. Sang patih lalu teringat pada ahli nujum yang menemukan tujuh ekor sapi itu. Pak Belalang dipanggil, dan titah raja jatuh seperti batu: tiga hari untuk menemukan jawabannya, atau penjara menanti.
Pak Belalang pulang dengan lutut gemetar. Malam itu ia tidak bisa tidur, dan itu sungguh kejadian langka.
“Habislah kita, Lemang,” keluhnya. “Ayah bahkan tidak tahu berapa biji timun di kebun kita sendiri.”
Si Lemang berpikir sejenak. Malam berikutnya, ia mendayung perahu kecil ke muara, menyelinap ke kapal, dan bersembunyi di dekat bilik raja seberang. Ia mendengar anak raja itu merengek, ingin tahu isi teka-teki ayahnya. Sang raja, yang tak tahan mendengar rengekan itu, membisikkan semua jawabannya. Si Lemang menyimak baik-baik, lalu mendayung pulang secepat mungkin.
Pada hari yang ditentukan, balairung penuh sesak. Tabung tertutup itu diletakkan di hadapan Pak Belalang. Ia memejamkan mata, bergumam lama sekali, dan mengulur waktu seakan-akan sedang berbicara dengan makhluk gaib. Keringat dingin menetes dari pelipisnya, tetapi ia menyebutnya tanda ilmu yang sedang bekerja.
“Isinya… seekor belalang,” katanya akhirnya.
Tabung dibuka, dan seekor belalang melompat keluar. Raja seberang mengerutkan kening.
Dua mentimun dibawa ke depan. Pak Belalang mengendusnya satu per satu seperti tabib. “Yang besar berbiji tiga, yang kecil berbiji tujuh.” Mentimun dibelah, biji dihitung, dan hasilnya tepat. Bisik-bisik kagum memenuhi ruangan.
Terakhir, kayu itu digotong masuk. Pak Belalang meminta sebuah bak berisi air. Kayu dimasukkan ke dalamnya. “Bagian yang tenggelam adalah pangkal, dan yang mengapung adalah ujung.”
Raja seberang terdiam, lalu mengakui kekalahannya. Ia pergi meninggalkan hartanya, dan negeri itu berpesta selama berhari-hari. Pak Belalang diberi emas dan tanah, bahkan ditawari kedudukan di istana.
Namun ia menolak dengan sopan. Tiga hari yang menakutkan itu sudah cukup baginya. Ia pulang, menggarap tanahnya dengan rajin, beternak kambing, dan menyekolahkan si Lemang. Kepada siapa pun yang meminta ramalan, ia hanya tersenyum dan menyuruh mereka bekerja.
💖 Pesan Moral
- Tahu kapan harus berhenti. Keselamatan Pak Belalang datang bukan dari ilmunya, dan ia cukup bijak untuk tidak mengujinya lagi.
- Di balik orang terkenal sering ada anak yang bekerja keras. Hargailah si Lemang dalam hidup kita.
Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari cerita rakyat Melayu tentang Pak Belalang, salah satu versi, yakni yang dikenal di Muara Enim, Sumatra Selatan.