Gudang Inspirasi Hidup
Humor

Tenali Raman dan Pencuri yang Menyiram Kebun

3 menit baca

Kolam air bertangga di Hampi, bekas ibu kota Wijayanagara tempat Tenali Raman mengabdi. Gambar: Dey.sandip · CC BY-SA 3.0 · sumber

Musim kemarau tahun itu panjang sekali. Sumur-sumur di kota Wijayanagara airnya surut, dan kebun di belakang rumah Tenali Raman mulai kering kerontang. Untuk menyiram semuanya, Tenali harus menimba air dari sumurnya yang dalam berjam-jam lamanya. Memikirkannya saja sudah membuat punggungnya pegal.

Suatu malam, ketika hendak tidur, Tenali mendengar suara bisik-bisik dari balik semak di dekat pagar. Ia mengintip dari jendela dan melihat beberapa bayangan orang yang mengendap-endap. Pencuri! Rupanya mereka menunggu sampai seisi rumah tertidur.

Tenali tidak panik. Ia malah tersenyum, karena sebuah gagasan muncul di kepalanya. Ia memanggil istrinya dan berbicara dengan suara keras, cukup keras untuk didengar sampai ke semak-semak.

“Istriku, akhir-akhir ini banyak pencuri berkeliaran. Aku khawatir perhiasan dan uang kita dicuri. Ayo kita masukkan semuanya ke dalam peti, lalu kita ceburkan ke sumur. Tidak ada pencuri yang akan berpikir mencarinya di sana.”

Istrinya bingung, tetapi Tenali mengedipkan mata. Istrinya langsung mengerti. “Wah, ide yang bagus sekali, Suamiku!” jawabnya, juga dengan suara keras.

Tenali mengisi sebuah peti tua dengan batu-batu dan barang-barang yang tidak berguna. Dengan susah payah ia menggotongnya ke halaman belakang, lalu… byur! Peti itu ia ceburkan ke dalam sumur. Setelah itu ia masuk ke rumah, mematikan pelita, dan pura-pura tidur. Padahal ia mengintip dari celah jendela.

Para pencuri saling berbisik dengan gembira. Mereka segera mengendap ke sumur dan mulai menimba air. Satu ember, dua ember, sepuluh ember. Air itu mereka buang begitu saja ke tanah di sekitar sumur, yang mengalir ke parit-parit kecil di kebun Tenali. Mereka bekerja bergantian sepanjang malam, berkeringat dan terengah-engah, tetapi air sumur itu seakan tidak habis-habis.

Tenali memperhatikan dari jendela. Setiap kali air mengalir ke bagian kebun yang belum basah, ia diam-diam keluar dan membelokkan parit kecil itu dengan cangkulnya, supaya semua tanaman kebagian air.

Menjelang subuh, akhirnya peti itu terlihat di dasar sumur. Para pencuri mengangkatnya dengan penuh harap dan membukanya. Isinya hanya batu!

Saat itu juga terdengar suara Tenali dari belakang mereka. “Terima kasih banyak, Saudara-saudara. Sudah lama kebunku tidak disiram sebasah ini. Kalau kalian mau, besok malam datang lagi, ya.”

Para pencuri itu sadar mereka telah dikerjai. Tanpa sepatah kata pun, mereka lari terbirit-birit dan tidak pernah lagi berani mendekati rumah Tenali Raman.

💖 Pesan Moral

  • Kecerdikan bisa mengubah ancaman menjadi keuntungan.
  • Keserakahan membuat orang mau bekerja keras untuk hal yang sia-sia, padahal kerja keras yang sama bisa dipakai untuk mencari nafkah yang jujur.
  • Tetap tenang saat menghadapi masalah membuka ruang bagi ide-ide yang tak terduga.

Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari cerita rakyat India selatan tentang Tenali Raman, pujangga istana Raja Krishnadevaraya dari Wijayanagara. Kisah-kisahnya merupakan tradisi lisan, bukan catatan sejarah.