Gudang Inspirasi Hidup
Inspirasi

Induk Kepiting dan Anaknya

3 menit baca

Induk kepiting dan anaknya di pantai, sedang membicarakan cara berjalan yang benar. Gambar: Wenceslaus Hollar · Public domain · sumber

Air laut baru saja surut, dan pasir pantai masih basah berkilau. Seekor induk kepiting keluar dari lubangnya bersama anaknya. Hari itu ia berniat mendidik sang anak supaya tumbuh menjadi kepiting yang baik.

Si anak berlari-lari kecil mendahuluinya, dengan kaki-kaki yang masih lincah. Ia bergerak ke samping, seperti yang selalu dilakukannya. Sebentar ke kiri, sebentar ke kanan, meninggalkan garis-garis kecil di pasir.

Induk kepiting mengawasinya sambil mengerutkan alis, kalau saja kepiting punya alis.

“Nak, mengapa jalanmu miring begitu? Tidak pantas. Berjalanlah lurus ke depan seperti seharusnya.”

Si anak berhenti. Ia memandang kaki-kakinya sendiri, lalu mencoba. Ia mengangkat kaki depan dan berusaha melangkah lurus. Tubuhnya berputar sedikit, kakinya saling tersangkut, dan ia terjerembap ke pasir. Ketika bangkit, ia sudah bergerak ke samping lagi.

“Sudah Ibu bilang, lurus!” kata induknya, lebih keras. “Lihat kepiting yang lain nanti. Apa kata mereka kalau anakku berjalan seperti itu?”

Si anak mencoba sekali lagi, dan hasilnya sama saja. Ia memandang pasir, lalu memandang ibunya. Ia tidak merasa sedang membangkang. Ia sungguh-sungguh ingin melakukannya. Hanya saja ia tidak tahu caranya. Dengan suara kecil yang jujur, ia berkata:

“Ibu, tunjukkan caranya. Kalau Ibu berjalan lurus lebih dulu, aku akan menirunya.”

Induk kepiting menegakkan tubuhnya. Permintaan yang mudah, pikirnya. Ia memandang lurus ke depan, ke arah garis air, lalu mengangkat kaki-kakinya dengan penuh wibawa.

Ia melangkah. Tubuhnya bergeser ke samping.

Ia berhenti, membetulkan arah, dan mencoba lagi dengan lebih bersungguh-sungguh. Tubuhnya bergeser ke samping lagi. Ia mencoba sampai napasnya terengah, tetapi seberapa pun kerasnya ia berusaha, jejak yang ditinggalkannya di pasir tetap menyamping, persis seperti jejak anaknya. Dan baru sekarang ia memperhatikan bahwa jejak itu sudah ada di sana sejak ia keluar dari lubang.

Ombak kecil datang dan menghapus garis-garis itu. Si anak masih menunggu dengan sabar.

Induk kepiting terdiam cukup lama. Ia merasa malu telah memarahi anaknya untuk sesuatu yang ia sendiri tidak bisa lakukan. Lalu ia mendekat dan berkata pelan, “Sudahlah, Nak. Ayo kita cari makan.” Keduanya pun berjalan bersama menyusuri pantai, menyamping berdampingan.

💖 Pesan Moral

  • Teladan lebih kuat daripada perintah. Anak belajar dari apa yang kita lakukan jauh lebih banyak daripada dari apa yang kita ucapkan.
  • Sebelum menegur, coba lakukan sendiri. Banyak tuntutan akan berubah setelah kita mencobanya.
  • Mengaku salah kepada anak tidak mengurangi wibawa. Justru dari situ anak belajar bahwa orang dewasa pun bisa keliru.
  • Bedakan kesalahan dari kodrat. Sebagian yang kita sebut kekurangan pada anak adalah cara ia diciptakan.

Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari fabel Aesop “The Crab and His Mother”. La Fontaine menulis variasinya dengan judul “L’Écrevisse et sa Fille”.