Siapa yang Mau Mengalungkan Lonceng pada Kucing?
Rapat besar para tikus dan sebuah lonceng. Ukiran Gustave Doré (1867). Gambar: Gustave Doré · Public domain · sumber
Di sebuah rumah besar, hiduplah sekelompok tikus yang dulu merasa sangat beruntung. Lumbungnya penuh gandum, dapurnya penuh remah roti, dan gudangnya penuh keju. Mereka bisa makan sepuasnya setiap malam.
Namun suatu hari, pemilik rumah membawa pulang seekor kucing. Kucing itu besar, cerdik, dan langkahnya nyaris tanpa suara. Sejak kedatangannya, hidup para tikus berubah menjadi mimpi buruk.
Setiap malam, satu atau dua tikus menghilang. Kucing itu bisa tiba-tiba muncul dari balik lemari, dari bawah kursi, atau dari kegelapan tangga. Para tikus tidak pernah mendengar kedatangannya sampai semuanya sudah terlambat.
Akhirnya, para tikus mengadakan rapat besar di sudut loteng yang paling gelap. Semua tikus hadir, dari yang tua sampai yang masih kecil. Mereka harus menemukan jalan keluar.
Seorang tikus mengusulkan agar mereka pindah rumah, tetapi yang lain menolak karena di luar terlalu berbahaya. Tikus lain mengusulkan agar mereka hanya keluar di siang hari, tetapi di siang hari manusia ada di mana-mana. Usul demi usul dibahas, tidak ada yang memuaskan.
Lalu seekor tikus muda berdiri dengan penuh semangat. “Saudara-saudara, aku punya ide cemerlang!” serunya. “Masalah kita adalah kucing itu datang tanpa suara, bukan? Bagaimana kalau kita menggantungkan sebuah lonceng kecil di lehernya? Setiap kali ia bergerak, lonceng itu akan berbunyi, dan kita punya waktu untuk lari bersembunyi!”
Ruangan langsung riuh oleh sorak-sorai. “Hebat! Luar biasa! Kenapa tidak terpikir dari dulu?” Para tikus bertepuk tangan, saling berpelukan, dan memuji-muji tikus muda itu. Mereka merasa masalah sudah selesai.
Hanya satu tikus yang tidak ikut bersorak. Ia adalah tikus tertua, yang bulunya sudah memutih dan sudah melihat banyak hal. Ia menunggu sampai keributan reda, lalu berbicara dengan suara tenang.
“Idenya memang bagus sekali,” katanya. “Aku setuju sepenuhnya. Sekarang tinggal satu pertanyaan kecil: siapa di antara kita yang akan menggantungkan lonceng itu di leher kucing?”
Loteng itu mendadak sunyi. Tikus-tikus saling pandang. Ada yang menunduk, ada yang pura-pura membersihkan kumisnya, ada yang perlahan bergeser ke belakang. Tikus muda yang tadi mengusulkan ide itu pun tiba-tiba terdiam.
“Aku… kakiku sedang sakit,” kata seekor tikus. “Aku terlalu kecil,” kata yang lain. “Aku harus menjaga anak-anakku,” kata yang lain lagi.
Tidak seorang pun mengajukan diri. Rapat itu bubar tanpa keputusan, dan malam itu kucing tetap berkeliaran dengan langkahnya yang senyap.
💖 Pesan Moral
- Mengusulkan ide itu mudah; melaksanakannya yang sulit.
- Rencana yang baik harus memikirkan siapa yang akan menjalankannya dan bagaimana caranya.
- Keberanian mengambil tanggung jawab lebih berharga daripada sorak-sorai di ruang rapat.
Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari fabel “Tikus-tikus Bermusyawarah” (Belling the Cat), yang secara tradisional dimasukkan ke dalam kumpulan fabel Aesop meskipun versi tertulis tertuanya berasal dari Abad Pertengahan; juga digubah oleh Jean de La Fontaine dalam “Conseil tenu par les Rats”.