Kolibri dan Kebakaran Hutan
Kecil, tetapi tidak berhenti berusaha. Gambar: Charles J. Sharp · CC BY-SA 4.0 · sumber
Di sebuah hutan lebat di pegunungan Amerika Selatan, hidup berbagai macam hewan. Ada jaguar yang gagah, rusa yang lincah, burung-burung beraneka warna, monyet yang riuh, dan seekor burung kolibri kecil yang tubuhnya tak lebih besar dari ibu jari manusia.
Suatu hari, terjadi bencana. Api berkobar di tepi hutan, dan dalam sekejap menjalar ke pepohonan. Asap hitam membubung ke langit. Pohon-pohon tua tumbang satu demi satu, dan suara gemeretak kayu terbakar terdengar di mana-mana.
Semua hewan panik. Mereka berlarian menyelamatkan diri ke tepi hutan, menuju sebuah sungai di kaki bukit. Di sana mereka berkumpul, berdesakan, dan menatap rumah mereka yang dilalap api. Ada yang menangis, ada yang gemetar ketakutan, ada yang hanya terpaku. “Habislah sudah,” keluh mereka. “Tidak ada yang bisa kita lakukan.”
Tetapi di tengah keputusasaan itu, si kolibri kecil terbang ke sungai. Ia mencelupkan paruhnya yang mungil ke air, mengambil setetes, lalu terbang secepat kilat ke arah api dan menjatuhkan tetesan air itu di atas kobaran. Kemudian ia kembali ke sungai, mengambil setetes lagi, lalu terbang lagi ke api. Begitu terus, bolak-balik, tanpa henti.
Hewan-hewan lain memperhatikannya dengan heran. Seekor beruang besar menggeleng-gelengkan kepala. “Hei, burung kecil, apa yang kau lakukan?”
Burung-burung besar ikut berkomentar. “Kau terlalu kecil! Apinya terlalu besar! Setetes airmu tidak ada artinya!” Jaguar pun mendengus, “Kau hanya membuang-buang tenaga. Kau tidak akan bisa memadamkan api sebesar itu.”
Kolibri itu berhenti sejenak di udara, sayapnya berdengung cepat. Lalu, tanpa sedikit pun kehilangan semangat, ia menjawab, “Aku sedang melakukan apa yang bisa kulakukan.”
Setelah berkata begitu, ia kembali ke sungai, mengambil setetes air lagi, dan terbang menuju api.
Hewan-hewan itu terdiam. Kata-kata kecil dari burung kecil itu terasa menggema di hati mereka. Mereka mulai saling berpandangan, seolah bertanya kepada diri sendiri: Lalu, apa yang bisa kulakukan?
Dalam beberapa versi cerita ini, kisah berakhir di sana, dengan jawaban sang kolibri yang sederhana. Dalam versi lain, hewan-hewan lain akhirnya tergerak untuk ikut membantu. Gajah menyemprotkan air dengan belalainya, burung-burung besar membawa air dengan paruh mereka, dan bersama-sama mereka berjuang menyelamatkan hutan.
Kisah ini menjadi terkenal di seluruh dunia setelah sering dituturkan oleh Wangari Maathai, aktivis lingkungan dari Kenya peraih Hadiah Nobel Perdamaian 2004. Ia selalu menutup ceritanya dengan berkata bahwa ia ingin menjadi seperti burung kolibri itu: melakukan yang terbaik yang ia bisa.
💖 Pesan Moral
- Jangan menunggu menjadi besar untuk berbuat baik. Lakukan apa yang bisa kamu lakukan, sekarang.
- Satu tindakan kecil yang tulus bisa menyadarkan dan menggerakkan banyak orang.
- Merasa tidak berdaya bukan alasan untuk diam, terutama dalam menjaga alam dan sesama.
Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari legenda yang dikenal berasal dari masyarakat Quechua di Amerika Selatan, dipopulerkan ke seluruh dunia oleh Wangari Maathai.