Gudang Inspirasi Hidup
Inspirasi

Mengapa Matahari dan Bulan Tinggal di Langit

3 menit baca

Senja di atas Sungai Cross, Nigeria, di wilayah tempat orang Efik menuturkan kisah ini. Gambar: Victor Eyo · CC BY-SA 4.0 · sumber

Ada masa ketika Matahari tinggal di bumi. Rumahnya berdiri di tanah seperti rumah orang lain, dan ia hidup bersama istrinya, Bulan, yang selalu menyambutnya dengan senyum lebar. Sahabat karib Matahari adalah Air.

Keduanya sangat akrab, tetapi persahabatan itu berat sebelah. Matahari sering sekali berkunjung ke tempat Air, sedangkan Air tak pernah sekali pun membalas kunjungannya. Lama-lama Matahari merasa heran.

“Sahabatku, kenapa kamu tidak pernah datang ke rumahku?”

Air menjawab dengan jujur. “Rumahmu tidak cukup besar. Kalau aku datang bersama rakyatku, kamu bisa terusir dari rumahmu sendiri.”

“Rakyatmu?”

“Rakyatku sangat banyak dan memerlukan tempat yang luas. Kalau kamu sungguh ingin aku datang, buatlah pekarangan yang amat besar. Kuperingatkan, tempat itu harus benar-benar luas.”

Matahari berjanji akan melakukannya. Ia pulang dengan gembira dan menceritakannya kepada Bulan. Esok paginya ia mulai membangun. Pagar demi pagar ia dirikan, makin lama makin jauh. Bulan membantunya dengan riang, karena tamu sebesar itu belum pernah datang ke rumah mereka. Ketika pekarangan itu selesai, luasnya melebihi apa pun yang pernah dilihat orang. Matahari puas memandangi hasil kerjanya, lalu mengundang sahabatnya datang keesokan hari.

Air tiba tepat waktu. Sebelum melangkah masuk, ia berseru dari gerbang:

“Sahabatku, apakah aman bila aku masuk?”

“Masuklah, Sahabatku!” jawab Matahari dengan hangat.

Air pun mengalir masuk, diiringi ikan-ikan dan segala makhluk air. Tak lama kemudian airnya sudah setinggi lutut.

“Masih amankah?” tanya Air.

“Masih!” jawab Matahari, yang terlalu ramah untuk menolak tamu. Maka lebih banyak lagi yang masuk. Para kerapu berenang di antara tiang rumah. Udang dan kepiting merayap di dinding.

Ketika air setinggi kepala orang dewasa, Air bertanya lagi, “Apakah kamu ingin lebih banyak rakyatku masuk?”

Matahari dan Bulan saling pandang, tetapi keduanya sama-sama tidak tahu harus berkata apa. Sebagai tuan rumah, mereka menjawab, “Ya.”

Air terus mengalir. Matahari dan Bulan terpaksa memanjat ke atap dan bertengger di sana sambil memegangi tepinya. Sekali lagi Air bertanya, dan sekali lagi ia mendapat jawaban yang sama. Rakyatnya masih berdatangan, tiada habisnya, sampai atap itu tenggelam.

Tak ada lagi tempat berpijak di bumi. Matahari dan Bulan pun terangkat ke atas, makin lama makin tinggi, dan akhirnya sampai di langit.

Di sanalah mereka tinggal sejak saat itu. Setiap hari Matahari memandang sahabatnya yang berkilauan jauh di bawah, dan setiap malam Bulan melakukan hal yang sama.

💖 Pesan Moral

  • Dengarkan peringatan sahabat. Air sudah berkata terus terang sejak awal; Matahari saja yang tidak membayangkan seberapa besar maknanya.
  • Keramahan perlu batas. Tuan rumah yang tak pernah berani berkata “cukup” bisa kehilangan rumahnya sendiri.
  • Kenali kapasitasmu sebelum berjanji. Niat baik tidak otomatis membuat rumah kita muat untuk segalanya.

Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari cerita rakyat Efik, Nigeria tenggara, yang dicatat Elphinstone Dayrell dalam Folk Stories from Southern Nigeria (1910).