Gudang Inspirasi Hidup
Inspirasi

Orang Badui dan Sekarung Pasir

2 menit baca

Kafilah unta di padang pasir, lukisan Charles-Theodore Frere, 1855. Gambar: Théodore Frère · Public domain · sumber

Seorang Arab pengembara berjalan melintasi padang pasir sambil menuntun untanya. Di punggung unta itu tergantung dua karung besar, satu di sisi kanan dan satu di sisi kiri. Ia berjalan pelan, puas dengan hidupnya, ketika seorang lelaki lain menyusulnya. Pakaiannya menunjukkan bahwa ia orang terpelajar. Lidahnya pun lancar sekali.

Mereka berjalan bersama, dan si terpelajar mulai bertanya tentang ini dan itu. Akhirnya ia menunjuk karung-karung di punggung unta.

“Apa isi karung-karung itu?”

“Yang satu berisi gandum,” jawab si pengembara. “Yang satu lagi berisi pasir.”

“Pasir? Untuk apa membawa pasir di tengah padang pasir?”

“Supaya seimbang. Kalau hanya satu karung gandum, muatannya miring.”

Si terpelajar menggeleng sambil tersenyum seperti guru di depan murid yang lamban.

“Mengapa tidak kamu bagi saja gandum itu menjadi dua bagian, separuh di tiap karung? Muatannya tetap seimbang, dan untamu tidak perlu memikul pasir.”

Si pengembara berhenti melangkah. Ia menatap karungnya, lalu menatap lelaki itu. Seumur hidup ia tak pernah memikirkan hal itu. Dengan penuh kagum ia berkata bahwa pikiran seperti itu pastilah milik orang luar biasa. Ia memaksa tamunya naik ke atas unta, sementara ia sendiri berjalan kaki menuntun tali.

Sepanjang jalan, ia terus memuji.

“Orang secerdas Tuan pasti seorang raja, atau menteri. Berapa banyak unta dan sapi yang Tuan miliki? Di mana toko Tuan? Di mana rumah Tuan?”

Si terpelajar menarik napas panjang. Ia mengaku bahwa ia sama sekali bukan raja atau menteri. Ia tidak punya unta, tidak punya toko, tidak punya rumah. Satu-satunya hasil dari semua ilmu dan kepandaiannya adalah lelah dan sakit kepala. Saat ini pun ia tidak tahu dari mana akan mendapat sepotong roti.

Si pengembara terdiam sejenak. Lalu ia menghentikan untanya.

“Kalau begitu turunlah,” katanya. “Pergilah ke arah yang lain, dan aku akan menempuh jalanku sendiri. Rupanya kecerdasanmu membawa sial. Aku lebih suka dengan sekarung gandum, sekarung pasir, dan hati yang tenteram.”

Ia mengikat kembali karungnya tanpa mengubah apa-apa, lalu berjalan pergi dengan langkah yang sama pelannya seperti tadi pagi.

💖 Pesan Moral

  • Kepandaian tidak selalu sama dengan kebijaksanaan. Kecerdasan yang tidak menolong pemiliknya hidup tenang patut dipertanyakan.
  • Nasihat perlu dilihat bersama hidup orang yang memberikannya. Sebelum menurut, tengok dulu ke mana nasihat itu sudah membawanya.
  • Tentu saja, gandumnya memang lebih baik dibagi dua. Rumi mengejek ilmu yang sombong, bukan mengajak kita menolak akal sehat.

Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari kisah orang Arab dan filsuf dalam Masnavi karya Jalaluddin Rumi, buku kedua.