Gudang Inspirasi Hidup
Humor

Gopal Bhar dan Ikan Hilsa

3 menit baca

Ikan hilsa, kebanggaan dapur Bengal. Gambar: Zaheed Sarwer Khan · CC BY 4.0 · sumber

Musim ikan hilsa tiba di Bengal, dan ikan itu melimpah. Nelayan menjaring berkeranjang-keranjang, harga di pasar jatuh, dan tak ada orang yang berbicara tentang hal lain. Di rumah, di jalan, di tepi sungai, semua orang membicarakan hilsa: berapa harganya, seberapa besar, dimasak dengan apa.

Istana pun tak luput. Di hadapan Maharaja Krishnachandra, seorang punggawa memamerkan ikan besar hasil belanjanya pagi itu. Sang Maharaja, yang sudah muak mendengar kata hilsa, naik darah. Punggawa itu terdiam dengan wajah pucat.

Sang Maharaja segera menyesal. Untuk meredakan suasana, ia berkata sambil setengah berkeluh kesah, “Rasanya tak seorang pun di negeri ini bisa membuat orang berhenti membicarakan hilsa. Gopal pun tidak.”

Gopal Bhar, yang duduk di sudut, mengangkat kepala. “Hamba bisa, Maharaja.”

“Oh, ya? Kalau begitu, belilah seekor hilsa yang besar di pasar, dan bawa ke istana. Kalau sepanjang jalan tak seorang pun menyebut ikan itu, engkau menang.”

Para punggawa tertawa. Berjalan dari pasar sampai istana dengan seekor hilsa besar di tangan, tanpa ada yang bertanya harganya? Itu sama saja dengan berjalan di tengah hujan tanpa basah.

Gopal pulang dan langsung memanggil tukang cukur. Ia mencukur sebagian janggutnya saja, sehingga wajahnya tampak separuh jadi. Ia menggosok badannya dengan abu dan mengenakan pakaian compang-camping. Lalu ia berjalan ke pintu dengan kaki telanjang.

Istrinya berteriak. “Apa yang kaulakukan? Engkau sudah gila?”

“Aku mau beli ikan,” jawab Gopal dengan tenang.

Istrinya memandangnya dengan ngeri, dan kini ia yakin suaminya benar-benar sudah gila.

Di pasar, Gopal memilih seekor hilsa paling besar dan berkilauan, membayarnya, lalu mengangkatnya tinggi-tinggi supaya semua orang bisa melihat. Ia mulai berjalan menuju istana.

Orang-orang berhenti. Anak-anak berlarian mengikutinya.

“Lihat orang lucu itu!” teriak seorang bocah.

“Dia orang gila!” seru yang lain.

“Bukan, itu pasti pertapa,” kata seorang kakek sambil mengangguk-angguk. “Lihat, ia sedang menjalani laku.”

Ibu-ibu berbisik-bisik tentang janggutnya. Para pedagang bertaruh tentang asal-usulnya. Ada yang tertawa, ada yang menjauh, ada yang memberi hormat. Di sepanjang jalan, orang membicarakan rambut, abu, dan pakaiannya. Tak seorang pun melirik ikan besar di tangannya.

Gopal tiba di gerbang istana, melewati para penjaga yang melongo, dan masuk ke balairung. Para punggawa menyambutnya dengan seruan kaget.

“Gopal! Apa yang terjadi dengan wajahmu?”

Gopal berjalan ke hadapan sang Maharaja, meletakkan ikan itu di lantai, dan membungkuk.

“Ikan hilsa pesanan Maharaja. Dari pasar sampai ke sini, tak satu orang pun bertanya tentang ikan ini.”

Sang Maharaja memandang janggut yang tinggal separuh, tubuh berlumur abu, dan ikan di lantai. Lalu ia tertawa terbahak-bahak sampai air matanya keluar.

💖 Pesan Moral

  • Perhatian orang bisa dialihkan. Orang ramai hanya bisa memikirkan satu hal yang paling mencolok pada satu waktu. Pengiklan dan penipu sama-sama tahu rahasia ini.
  • Berani tampak konyol bisa menjadi kekuatan. Gopal rela diejek sehari demi memenangkan tantangannya.
  • Pelajaran bagi sang istri: kalau suami mencukur separuh janggut dan bilang mau beli ikan, sebaiknya tanyakan dulu alasannya.

Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari cerita rakyat Bengal tentang Gopal Bhar, pelawak istana Maharaja Krishnachandra dari Nadia, salah satu versi.