Perumpamaan Gergaji
Gergaji bergagang dua, alat yang menjadi nama perumpamaan ini. Gambar: Rosser1954 · Public domain · sumber
Di Savatthi pernah hidup seorang nyonya rumah bernama Vedehika. Seluruh kota mengenalnya sebagai perempuan yang lembut, rendah hati, dan tenang. Tak seorang pun pernah melihatnya marah.
Pembantunya, Kali, adalah gadis yang cekatan. Ia bangun paling pagi dan mengerjakan semua tugas dengan rapi. Suatu hari sebuah pikiran muncul di benaknya: “Nyonyaku terkenal sabar. Tetapi benarkah ia memang tak punya amarah, atau selama ini tak ada yang memancingnya karena pekerjaanku selalu beres?”
Ia memutuskan untuk menguji.
Esok harinya Kali bangun agak siang. Vedehika memanggilnya. “Kali, ada apa? Kenapa baru bangun?”
“Tidak ada apa-apa, Nyonya.”
Dahi Vedehika berkerut, dan rautnya berubah kesal. “Tidak ada apa-apa, tetapi kau bangun sesiang ini?” Kali mencatat dalam hati: jadi amarah itu ada.
Besoknya ia bangun lebih siang lagi. Kali ini Vedehika berkata-kata kasar. Pada hari ketiga, Kali bangun lebih siang daripada dua hari sebelumnya. Nyonya rumah yang termasyhur lembut itu tak lagi bisa menahan diri. Ia meraih palang pintu dan memukulkannya ke kepala Kali.
Darah mengucur. Kali berlari keluar ke jalan sambil berseru kepada para tetangga agar melihat perbuatan nyonya yang katanya lembut itu. Sejak hari itu Vedehika dikenal sebagai perempuan yang kejam.
Buddha menuturkan kisah ini kepada para biksu, ketika seorang biksu bernama Phagguna terlalu dekat dengan sekelompok biksuni dan langsung marah setiap kali ada yang mengkritik mereka. Seorang biksu, kata beliau, bisa saja tampak sangat lembut selama semua orang berbicara manis kepadanya. Sebelum tersentuh kata-kata yang tidak enak, kelembutannya belum teruji.
Lalu beliau menjelaskan bahwa perkataan orang kepada kita ada lima macam: tepat waktu atau tidak, benar atau tidak, lembut atau kasar, bermanfaat atau tidak, dan diucapkan dengan kasih atau dengan kebencian. Siapa pun bisa menerima salah satu dari semua itu. Tugas seseorang adalah menjaga hatinya agar tidak terguncang, dan tetap memancarkan kasih kepada orang yang berbicara.
Untuk menggambarkan keluasan hati seperti itu Buddha memakai beberapa perumpamaan. Andaikan seseorang datang membawa cangkul dan hendak menghilangkan bumi; bumi terlalu luas untuk itu. Andaikan seseorang membawa cat dan hendak melukis di langit; tak ada tempat untuk cat itu menempel.
Perumpamaan terakhir paling keras, dan menjadi nama sutta ini. Sekalipun para perampok menggergaji seseorang anggota tubuh demi anggota tubuh dengan gergaji bergagang dua, siapa pun yang membiarkan hatinya dikuasai kebencian saat itu belum menjalankan ajaran beliau. Bahkan dalam keadaan itu, orang dilatih untuk tetap tanpa kata-kata buruk, penuh belas kasih, tanpa benci di dalam hatinya.
Beliau meminta para biksu untuk sering mengingat perumpamaan gergaji ini. Kalau pada keadaan seekstrem itu saja kasih harus dijaga, apalah artinya satu ucapan yang tak enak di telinga?
💖 Pesan Moral
- Kesabaran belum teruji selama semua berjalan sesuai keinginan. Vedehika tampak lembut karena selama itu tak ada yang menyenggolnya.
- Reputasi bertahun-tahun bisa jatuh dalam sekali ledakan. Satu pukulan menghapus semua pujian seluruh kota.
- Kita tak bisa memilih perkataan orang. Yang bisa kita pilih adalah sikap batin saat mendengarnya.
- Hati yang luas sulit dinodai. Seperti langit yang tak bisa dilukis, ia tak menyediakan tempat untuk kebencian menempel.
Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari Kakacupama Sutta (Perumpamaan Gergaji), Majjhima Nikaya (MN 21), kitab kanon Buddhis berbahasa Pali.