Angsa Berbulu Emas
Burung hamsa pada ubin terakota Sri Lanka abad ke-12, sebangsa angsa dalam seni Asia Selatan. Gambar: Daderot · Public domain · sumber
Seorang brahmana di Benares meninggal dunia dan meninggalkan seorang istri serta tiga anak perempuan: Nanda, Nandavati, dan Sundarinanda. Keluarga kecil itu tak punya apa-apa. Tetangga dan kerabat menampung mereka, dan mereka bertahan hidup dengan bekerja untuk orang lain.
Sang brahmana sendiri, menurut kisah ini, terlahir kembali sebagai seekor angsa dengan bulu emas murni. Anehnya, ia masih ingat kehidupannya yang dulu. Ketika sudah dewasa dan melihat bulunya sendiri berkilau seperti emas tempaan, ia bertanya-tanya bagaimana nasib keluarganya. Ia terbang mencari, dan mendapati mereka hidup dari belas kasihan orang.
Hatinya terenyuh. Ia terbang ke rumah tempat mereka tinggal dan hinggap di balok atap.
“Dari mana engkau, burung yang elok?” tanya sang istri.
“Aku suamimu, ayah anak-anak ini. Aku sudah mati dan lahir kembali seperti ini. Aku datang supaya kalian tak perlu lagi bekerja untuk orang. Ambillah buluku satu per satu. Jual, dan hiduplah dengan cukup.”
Ia menjatuhkan selembar bulu, lalu terbang pergi. Beberapa waktu kemudian ia datang lagi membawa selembar lagi, dan begitu seterusnya. Dari penjualan bulu-bulu itu, ibu dan ketiga putrinya hidup makin nyaman. Tak ada lagi yang harus menunduk di dapur orang.
Namun ada satu hal yang tumbuh bersama rasa nyaman itu, yaitu rasa takut kehilangan.
“Hewan itu tak bisa dipercaya, anak-anakku,” kata sang ibu suatu hari. “Siapa yang menjamin ayah kalian akan terus datang? Bagaimana kalau suatu hari ia pergi dan tidak kembali? Kali berikutnya ia datang, kita cabut saja semua bulunya sekaligus.”
“Itu akan menyakitinya, Bu,” jawab anak-anaknya. Mereka menolak ikut.
Penolakan itu tidak menghentikan sang ibu. Ketika angsa itu datang lagi, ia memanggilnya mendekat dengan suara lembut. Begitu sang angsa berada dalam jangkauan, ia mencengkeramnya dengan kedua tangan dan mencabut bulunya sehelai demi sehelai, sampai habis.
Bulu-bulu itu rupanya hanya tetap emas selama diberikan dengan rela. Yang dicabut secara paksa itu berubah menjadi bulu biasa, seputih bulu bangau. Sang ibu memandang tumpukan bulu di tangannya, dan tak ada lagi yang bisa dijual.
Angsa itu tak bisa terbang lagi. Ia dimasukkan ke dalam tong dan diberi makan. Lama-kelamaan bulunya tumbuh kembali, tetapi kini putih semua, tanpa sehelai pun emas. Begitu sayapnya kuat, ia mengepak naik ke udara, terbang ke tempat asalnya, dan tak pernah kembali.
Keluarga itu telah memiliki semua yang mereka butuhkan. Mereka kehilangannya pada hari mereka ingin memiliki semuanya sekaligus.
💖 Pesan Moral
- Cukup itu perlu dipelajari. Sang ibu tidak kekurangan apa pun; ia hanya tak tahan melihat ada yang belum ada di tangannya.
- Pemberian tak bisa diubah menjadi hak. Yang diberikan dengan kasih akan berhenti mengalir jika direbut.
- Rasa takut bisa merusak sumber rezeki. Ketakutan akan masa depan membuat orang menghancurkan apa yang sudah baik hari ini.
- Dengarkan suara yang menolak. Anak-anaknya sudah mengingatkan, dan peringatan itu sebenarnya cukup untuk menyelamatkan semuanya.
Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari Suvannahamsa Jataka (Jataka no. 136), kumpulan kisah kelahiran lampau Buddha dalam tradisi Buddhis. Beberapa terjemahan menyebut burung ini angsa, sebagian lagi itik emas.