Kisah Seorang Ibu
Sang ibu bergegas keluar mengejar Maut, ilustrasi Charles Robinson untuk dongeng Andersen. Gambar: Charles Robinson · Public domain · sumber
Tiga hari tiga malam seorang ibu menjaga anaknya yang sakit. Di luar salju menutup segalanya. Pintu diketuk, dan masuklah seorang lelaki tua berselimut kain kuda, menggigil kedinginan. Ibu itu menghangatkan bir untuknya, lalu duduk kembali memegang tangan anaknya. Lelaki tua itu mengayun buaian.
“Dia akan tinggal bersamaku, bukan?” bisiknya. Lelaki tua itu mengangguk dengan cara yang bisa berarti ya, bisa juga tidak.
Kepala si ibu terasa berat. Ia tertidur, sekejap saja. Ketika terbangun menggigil, kamar sudah kosong. Lelaki tua itu tidak ada, anaknya pun tidak ada. Jam di sudut berhenti berdetak. Lelaki itu ternyata Maut.
Ia berlari ke luar sambil memanggil anaknya. Di salju duduk seorang perempuan berbaju hitam panjang.
“Maut sudah membawanya. Dia melangkah lebih cepat dari angin, dan tak pernah mengembalikan apa yang diambilnya.”
“Tunjukkan saja jalannya.”
Perempuan itu adalah Malam. Ia mau menunjukkan jalan asalkan si ibu menyanyikan semua lagu yang pernah ia nyanyikan untuk anaknya. Maka ibu itu bernyanyi sambil meremas tangan, dan air matanya lebih banyak daripada lagunya. Akhirnya Malam berkata, “Ke kanan, masuk hutan cemara.”
Di persimpangan hutan berdiri semak berduri tanpa daun, penuh es. Semak itu baru mau bicara kalau dihangatkan. Ibu itu mendekapnya erat ke dada. Durinya menusuk dan darahnya menetes, tetapi semak itu berdaun dan berbunga di tengah malam musim dingin, begitu hangatnya hati seorang ibu yang berduka.
Ia tiba di tepi danau luas, tak ada perahu, dan esnya terlalu tipis. Ia berbaring dan mencoba meminum airnya, walau tahu itu mustahil. Danau berkata, “Aku suka mengumpulkan mutiara, dan matamu paling bening yang pernah kulihat. Tangisilah matamu ke dalam airku, lalu kuantar kau ke rumah kaca tempat Maut merawat bunga dan pohon. Setiap tanaman di sana adalah satu nyawa manusia.”
Ia terus menangis sampai kedua matanya jatuh ke dasar danau dan menjadi mutiara. Danau mengangkatnya ke seberang.
Di sana, dengan mata buta, ia bertemu perempuan tua penyiram rumah kaca Maut. Perempuan itu meminta rambut hitamnya yang panjang dan memberikan rambut putihnya sebagai ganti. Ibu itu menyerahkannya tanpa ragu. Lalu ia dibimbing masuk. Setiap tanaman punya jantung yang berdetak. Ibu itu membungkuk dari satu tanaman ke tanaman lain, dan di antara jutaan detak, ia mengenali detak anaknya pada sekuntum krokus yang layu.
Udara mendadak sedingin es. Maut tiba.
“Bagaimana kau bisa sampai lebih dulu daripada aku?”
“Aku seorang ibu.”
Maut mengulurkan tangan. Ia menjelaskan bahwa ia hanya tukang kebun yang memindahkan tanaman ke taman di negeri yang tak dikenal. Ibu itu memohon. Lalu, dalam putus asa, ia mencengkeram dua kuntum bunga. “Akan kucabut semua bungamu!”
“Jangan sentuh. Kau mengaku menderita, lalu kau ingin membuat ibu lain menderita seperti dirimu?”
Tangannya langsung terbuka. “Ibu lain…”
Maut mengembalikan matanya, yang ia pungut dari danau, lalu menyuruhnya melihat ke dalam sumur. Di sana terbentang masa depan dua kehidupan dari dua bunga yang tadi hampir ia cabut: yang satu menjadi berkat bagi dunia, yang lain penuh kesengsaraan.
“Yang mana yang celaka?” tanya si ibu.
“Itu tak bisa kukatakan. Tetapi satu di antaranya adalah bunga anakmu.”
Ibu itu menjerit, memohon agar anaknya dibebaskan dari kesengsaraan. Maut bertanya, apakah ia menginginkan anaknya kembali, atau dibawa ke tempat yang tak dikenal? Ibu itu berlutut dan berdoa agar doanya sendiri tidak dikabulkan bila bertentangan dengan kehendak Tuhan. Kepalanya terkulai.
Maut pun membawa anaknya ke negeri yang tak dikenal.
💖 Pesan Moral
- Kasih seorang ibu rela membayar dengan apa saja. Lagu, darah, mata, dan rambut diberikan tanpa tawar-menawar.
- Duka tidak boleh dibayar dengan duka orang lain. Tangan si ibu terbuka begitu ia teringat ibu yang lain.
- Kita tidak tahu masa depan yang sedang kita minta. Ada doa yang baru bisa diucapkan setelah kita mengakui keterbatasan.
- Bagi yang sedang berduka: kisah ini tidak menawarkan jawaban mudah, hanya penghormatan kepada cinta yang tetap bertahan sesudah kehilangan.
Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari dongeng Hans Christian Andersen, “Kisah Seorang Ibu” (terbit Desember 1847).