Daedalus dan Icarus
Pemandangan dengan Jatuhnya Icarus, dinisbahkan kepada Pieter Bruegel. Si pembajak dan si gembala juga disebut Ovidius. Gambar: Pieter Brueghel the Elder · Public domain · sumber
Daedalus rindu kampung halaman. Ia pengrajin paling cerdas pada masanya, tetapi sudah lama tertahan di Pulau Kreta, dan Raja Minos menguasai semua jalan keluar. Laut dijaga, daratan tak ada. Suatu hari ia memandang ke atas.
“Minos boleh menghalangi darat dan laut,” katanya, “tetapi langit tetap terbuka. Kita akan pergi lewat sana.”
Ia mengumpulkan bulu-bulu burung dan menyusunnya berderet, dari yang paling pendek ke yang paling panjang, seperti pipa seruling gembala. Bagian tengahnya diikat dengan benang, pangkalnya direkatkan dengan lilin lebah, lalu semuanya dilengkungkan sedikit agar menyerupai sayap burung sungguhan.
Anaknya, Icarus, berdiri di sampingnya tanpa tahu bahwa ia sedang bermain dengan bahaya. Ia tertawa mengejar bulu halus yang tertiup angin dan memijat-mijat lilin kuning dengan jempolnya, sampai mengganggu pekerjaan sang ayah.
Ketika sayap selesai, Daedalus mencobanya dan melayang di udara. Lalu ia memasangkan sepasang sayap yang lebih kecil di bahu anaknya. Pipinya basah, dan tangan tuanya gemetar.
“Dengarkan, Icarus. Terbanglah di jalur tengah. Kalau terlalu rendah, uap laut akan memberati sayapmu. Kalau terlalu tinggi, matahari akan membakarnya. Ikuti saja aku.”
Ia mencium anaknya, ciuman yang tak akan terulang, lalu terbang lebih dulu sambil terus menoleh ke belakang, seperti induk burung yang menuntun anaknya keluar dari sarang.
Dari bawah, seorang pemancing, seorang gembala, dan seorang pembajak terperangah. Mereka mengira kedua sosok yang melintasi langit itu pasti dewa.
Pulau Samos sudah terlewat di sebelah kiri, Delos dan Paros tertinggal di belakang. Di kanan tampak Lebinthos dan Kalymne yang kaya madu. Icarus mulai menikmati penerbangan itu. Ia tak pernah merasakan kebebasan seperti ini. Sayapnya menuruti setiap gerakan, dan langit di atasnya terasa memanggil. Ia meninggalkan pemandunya, lalu naik dan terus naik.
Dekat matahari yang menyengat, lilin harum itu melunak. Bulu-bulu terlepas satu per satu. Icarus mengepakkan lengannya yang kini telanjang, tetapi tak ada lagi yang menahan udara. Mulutnya masih meneriakkan nama ayahnya ketika air biru tua menelannya.
“Icarus! Icarus, di mana kamu?”
Daedalus berputar-putar di atas laut, memandang ke segala arah, memanggil berulang-ulang. Lalu ia melihat bulu-bulu terapung di ombak. Saat itu ia mengutuk kepandaiannya sendiri.
Ia mengambil tubuh anaknya dan menguburkannya di sebuah pulau. Pulau itu hingga kini bernama Ikaria, dan laut di sekitarnya disebut Laut Ikaria, sesuai dengan nama anak yang terbang terlalu tinggi.
💖 Pesan Moral
- Jalur tengah sering kali paling aman. Daedalus memperingatkan dua bahaya, terlalu rendah dan terlalu tinggi.
- Kegembiraan bisa membuat kita melupakan nasihat. Icarus tidak jatuh karena tidak tahu, melainkan karena terlena.
- Kecerdikan tidak menghapus risiko. Penemuan paling hebat pun tetap punya batas yang harus dihormati.
- Bagi orang tua, kisah ini mengingatkan bahwa kita bisa membekali anak dengan sayap, tetapi tidak bisa terbang menggantikan mereka.
Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari Metamorfosis karya Ovidius, Buku VIII.