Raja Berjanggut Burung
Ilustrasi Arthur Rackham: sang putri harus meninggalkan istana bersama suaminya, si pemain biola. Gambar: Arthur Rackham · Public domain · sumber
Seorang putri raja terkenal karena dua hal: kecantikannya yang luar biasa dan lidahnya yang tajam. Tak ada pelamar yang cukup baik baginya. Satu per satu mereka ia tolak, dan penolakan itu selalu disertai ejekan.
Suatu kali sang raja mengadakan pesta besar dan mengundang semua pemuda yang pantas menikah. Mereka dibariskan menurut pangkat, mulai dari para raja, adipati, dan pangeran sampai para bangsawan. Sang putri berjalan melewati barisan itu. Yang gemuk ia sebut tong anggur. Yang tinggi kurus ia sebut galah. Yang pucat ia sebut mayat. Lalu ia sampai pada seorang raja muda yang baik hati, yang dagunya sedikit bengkok.
“Lihat!” serunya sambil tertawa. “Dagunya seperti paruh burung!”
Sejak hari itu raja muda tersebut dipanggil Raja Berjanggut Burung.
Ayahnya sangat murka melihat kelakuan itu, dan ia bersumpah akan menikahkan putrinya dengan pengemis pertama yang datang ke pintu istana. Beberapa hari kemudian seorang pemain biola berpakaian compang-camping bernyanyi di bawah jendela. Raja memanggilnya masuk. Selesai bernyanyi, ia meminta sedikit sedekah.
“Nyanyianmu menyenangkanku,” kata raja. “Kuberikan putriku menjadi istrimu.”
Permohonan sang putri sia-sia. Pendeta dipanggil, pernikahan dilangsungkan saat itu juga, dan ia harus pergi dengan berjalan kaki bersama suaminya.
Mereka melewati hutan yang indah. “Milik siapa hutan ini?” tanyanya.
“Milik Raja Berjanggut Burung. Kalau kau menerimanya, semua ini milikmu.”
Padang rumput dan kota besar yang mereka lewati ternyata juga miliknya. Setiap kali sang putri meratap, “Ah, celakanya aku! Andai dulu kuterima Raja Berjanggut Burung!”
Akhirnya mereka tiba di sebuah gubuk sangat kecil. Itulah rumah mereka. Tak ada pelayan. Ia harus menyalakan api dan memasak, padahal tak pernah belajar. Ketika persediaan makanan habis, suaminya menyuruhnya menganyam keranjang, tetapi ranting-ranting melukai tangannya. Ia mencoba memintal, dan benang mengiris jarinya sampai berdarah. Lalu suaminya membeli barang pecah belah dan menyuruhnya berjualan di pasar. Mula-mula dagangannya laku. Namun suatu hari seorang prajurit berkuda yang mabuk menerjang lapaknya, dan semua periuk hancur berkeping-keping.
Suaminya lalu mengatur agar ia bekerja sebagai pembantu dapur di istana raja negeri itu. Ia mengerjakan pekerjaan paling kotor dan membawa pulang sisa makanan dalam dua guci kecil yang diikat di sakunya.
Pada suatu malam, putra sulung raja akan menikah. Dengan hati pilu ia mengintip dari pintu aula, mengutuk kesombongan yang telah membawanya ke tempat ini. Tiba-tiba sang pangeran masuk, berpakaian beludru dan rantai emas, melihatnya di dekat pintu, dan mengajaknya menari. Ia gemetar. Pangeran itu adalah Raja Berjanggut Burung.
Ia ditarik ke tengah aula. Tali sakunya putus, guci-gucinya jatuh, dan sup serta sisa makanan berhamburan di lantai. Seluruh hadirin tertawa. Ia berlari menuju pintu, tetapi seseorang menahannya di tangga. Itu lagi-lagi sang raja. Dengan lembut ia berkata:
“Jangan takut. Aku dan si pemain biola itu orang yang sama. Aku menyamar karena cinta kepadamu. Aku juga prajurit yang menghancurkan periukmu. Semua itu kulakukan untuk merendahkan kesombonganmu dan menghukum ejekanmu kepadaku.”
Ia menangis tersedu-sedu. “Aku telah berbuat sangat salah, dan tak pantas menjadi istrimu.”
“Tenanglah, hari-hari buruk sudah lewat. Sekarang kita rayakan pernikahan kita.”
Dayang-dayang mengenakan pakaian terindah kepadanya, ayahnya datang bersama seluruh istana, dan pesta yang sesungguhnya pun dimulai.
💖 Pesan Moral
- Ejekan bisa kembali kepada pengucapnya. Lidah yang tajam sering melukai masa depan pemiliknya.
- Penghargaan pada kerja tangan lahir setelah mencobanya. Sang putri baru menghormati pekerjaan setelah tangannya berdarah.
- Dagu yang bengkok tidak mengurangi kebaikan seseorang. Kekurangan fisik bukan bahan olok-olok.
- Dongeng ini lahir dari zamannya. Cara raja “mendidik” calon istrinya dengan tipu daya dan penderitaan bukan contoh yang patut ditiru dalam pernikahan.
Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari dongeng Grimm Bersaudara “König Drosselbart” (Kinder- und Hausmärchen no. 52). Nama asli sang raja secara harfiah berarti “Janggut Burung Thrush”, sejenis burung penyanyi.