Gudang Inspirasi Hidup
Inspirasi

Si Kaya dan Si Miskin

4 menit baca

Ilustrasi Paul Hey: pengembara dijamu dengan makanan sederhana di rumah keluarga miskin. Gambar: Paul Hey · Public domain · sumber

Pada suatu senja, seorang pengembara berpakaian sederhana kemalaman di jalan sebelum sempat tiba di penginapan. Di depannya berdiri dua rumah yang saling berhadapan. Yang satu besar dan indah, milik seorang kaya. Yang satu lagi kecil dan reyot, milik seorang miskin.

Pengembara itu mengetuk pintu rumah yang besar, karena menurutnya menampung seorang tamu tak akan memberatkan pemiliknya. Si kaya membuka jendela dan memandanginya dari ujung kaki sampai ujung kepala. Melihat pakaian tamu itu, ia menggeleng.

“Tidak bisa. Kamar-kamarku penuh benih dan tanaman obat. Kalau semua orang yang mengetuk pintu kutampung, sebentar lagi aku sendiri jadi pengemis. Cari saja tempat lain.”

Jendela ditutup. Pengembara itu menyeberang jalan dan mengetuk pintu kecil. Belum lama tangannya turun, pintu sudah terbuka.

“Masuklah, hari sudah gelap,” kata si miskin. “Tuan tidak bisa berjalan lagi malam ini.”

Istrinya menjabat tangan tamu itu dan berkata bahwa mereka tak punya banyak, tetapi yang ada akan diberikan dengan sepenuh hati. Ia merebus kentang dan memerah kambing mereka agar ada sedikit susu. Meja makan itu sederhana, tetapi wajah-wajah di sekelilingnya bahagia, dan sang tamu makan dengan senang hati. Ketika waktu tidur tiba, pasangan itu memaksa tamunya tidur di ranjang mereka, sementara mereka berbaring di atas jerami.

Pagi harinya, setelah sarapan, pengembara itu berhenti di ambang pintu.

“Kalian begitu baik. Ajukanlah tiga permintaan, dan akan dikabulkan.”

Si miskin berpikir sebentar. Ia meminta kebahagiaan abadi, lalu kesehatan dan makanan sehari-hari selama hidup. Untuk yang ketiga ia kehabisan gagasan.

“Bagaimana kalau rumah baru?” tanya sang tamu.

“Wah, kalau boleh, tentu kami senang sekali.”

Saat itu juga gubuk mereka berubah menjadi rumah baru, dan pengembara itu melanjutkan perjalanan.

Siang harinya si kaya bangun, melongok dari jendela, dan melihat rumah bersih beratap merah di tempat gubuk tadi malam. Istrinya bergegas bertanya, lalu lari pulang membawa kabar. Si kaya hampir mengamuk.

“Orang itu datang ke rumah kita, dan aku mengusirnya!”

“Cepat naik kuda dan kejar dia!” kata istrinya.

Ia berhasil menyusulnya, lalu berbicara dengan manis. Katanya ia tadi malam hanya sedang mencari kunci pintu. Bolehkah ia juga mendapat tiga permintaan?

“Boleh,” kata sang pengembara, “tetapi itu tidak akan menguntungkanmu. Lebih baik jangan meminta apa-apa.”

Si kaya bersikeras. Ia pun disuruh pulang, dan tiga permintaan yang ia ucapkan akan terkabul.

Ia berkuda sambil berpikir keras, tetapi kudanya melonjak-lonjak dan memecah pikirannya. Ia menepuk lehernya, lalu hilang kesabaran dan berteriak, “Patah saja lehermu!” Kuda itu langsung roboh, mati.

Karena kikir, ia melepaskan pelananya dan memikulnya pulang. Matahari tengah hari membakar. Pelana itu menyakiti punggungnya. Sambil berjalan ia teringat istrinya yang bersantai di rumah yang sejuk, dan ia merasa jengkel. Tanpa sadar ia bergumam, “Andai saja dia yang duduk di pelana ini dan tak bisa turun.”

Pelana itu lenyap dari punggungnya. Ia berlari pulang. Di tengah ruangan, istrinya duduk di atas pelana sambil menangis, tak bisa turun.

“Bersabarlah,” bujuknya. “Permintaan terakhirku untuk seluruh harta di bumi.”

“Bodoh!” bentak istrinya. “Apa gunanya semua harta kalau aku harus duduk di sini? Kau yang menaruhku di sini, kau yang harus menurunkanku!”

Maka habislah permintaan ketiga untuk melepaskan istrinya dari pelana. Yang ia dapat hanya kejengkelan, omelan, dan kuda yang mati. Sementara itu pasangan di seberang jalan hidup tenang dan bahagia sampai akhir hayat mereka.

💖 Pesan Moral

  • Cara kita memperlakukan orang asing memperlihatkan siapa diri kita. Si kaya menilai tamunya dari pakaian.
  • Kemurahan hati tidak menunggu kelebihan. Pasangan miskin itu memberikan ranjang satu-satunya.
  • Amarah bisa membuang kesempatan terbaik. Dua permintaan habis hanya karena kekesalan sesaat.
  • Tahu apa yang cukup adalah bagian dari kebijaksanaan. Si miskin hampir tak tahu apa lagi yang harus diminta.

Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari dongeng Grimm Bersaudara “Der Arme und der Reiche” (Kinder- und Hausmärchen no. 87). Dalam naskah aslinya, pengembara itu adalah Tuhan yang sedang berjalan di bumi, sebuah motif dalam cerita rakyat Eropa; di sini ia disebut pengembara saja demi rasa hormat.