Topi Dua Warna
Ukiran kayu Yoruba untuk pemujaan Eshu, orisha penjaga persimpangan jalan. Gambar: Unknown author Unknown author · CC BY 3.0 · sumber
Di sebuah desa Yoruba tinggal dua sahabat yang tak terpisahkan. Sejak kecil mereka selalu bersama. Setelah dewasa mereka berjanji akan bersahabat sampai mati, dan mereka membuka ladang berdampingan, hanya dipisahkan oleh sebuah jalan setapak. Setiap pagi mereka berangkat bersama, setiap siang makan bersama, dan setiap sore pulang bersama. Orang-orang di desa menjadikan keduanya contoh persahabatan yang sempurna.
Akan tetapi, mereka lupa satu hal ketika mengucapkan janji itu. Mereka tidak menyebut nama Eshu.
Dalam kepercayaan orang Yoruba, Eshu adalah orisha pembawa pesan antara manusia dan para dewa, penjaga persimpangan jalan, dan penguji watak manusia. Ia suka menjungkirbalikkan apa yang tampak pasti. Ia memperhatikan kedua sahabat itu dan memutuskan untuk menguji seberapa kuat janji mereka.
Pagi itu, ia mengenakan topi istimewa. Satu sisinya merah, sisi lainnya hitam. Ia berjalan menyusuri jalan setapak di antara dua ladang itu, cukup pelan dan cukup berisik agar keduanya menoleh. Ia menyapa, lalu berlalu.
Saat siang tiba, kedua sahabat duduk makan bersama seperti biasa.
“Kamu lihat orang asing tadi? Topi merahnya bagus sekali,” kata yang seorang.
“Topi merah? Topinya hitam,” kata yang lain.
“Merah! Aku melihatnya dengan jelas.”
“Aku juga melihatnya dengan jelas. Hitam!”
“Kamu mengatai aku buta?”
“Kamu sendiri mengatai aku pembohong!”
Soal sepele itu membesar dengan cepat. Yang tadinya perbedaan pendapat berubah menjadi soal harga diri. Keluar kata-kata yang tak pernah terucap selama bertahun-tahun persahabatan mereka. Orang-orang berdatangan dari ladang sekitar untuk melerai, dan akhirnya mereka ikut berpihak. Kedua sahabat itu saling mencaci, lalu saling memukul, dan seluruh desa menjadi gaduh.
Perkara itu dibawa ke hadapan raja. Keduanya berdiri berjauhan dengan wajah penuh amarah, dan masing-masing bersumpah bahwa dirinya benar.
Pada saat itulah Eshu muncul di balairung. Ia berjalan ke tengah ruangan, masih mengenakan topinya, lalu berputar pelan di hadapan semua orang.
Dari satu sisi, topi itu merah. Dari sisi lain, topi itu hitam.
Ruangan menjadi sunyi. Kedua sahabat menatap topi itu, kemudian saling memandang. Keduanya benar, dan keduanya sama-sama salah. Masing-masing telah melihat sesuatu yang nyata, dan masing-masing menyangka itulah keseluruhannya.
Sejak itu, kata orang, kedua lelaki itu tidak pernah lagi merasa terlalu yakin. Dan siapa pun yang berjalan di persimpangan jalan tahu bahwa ada yang mengawasi, menunggu kita lupa bahwa sebuah topi punya dua sisi.
💖 Pesan Moral
- Yang kita lihat benar, tetapi jarang lengkap. Orang lain bisa berdiri di sisi yang tidak kita lihat.
- Sebelum menuduh, coba berpindah tempat. Satu langkah ke samping sering lebih berguna daripada seribu kata.
- Jangan biarkan perkara kecil merusak yang besar. Persahabatan bertahun-tahun bisa goyah oleh warna sebuah topi.
Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari salah satu versi kisah Yoruba, Nigeria, tentang Eshu dan dua sahabat. Warna topi dan rincian lain berbeda antarversi.