Gudang Inspirasi Hidup
Inspirasi

Pemusik dari Bremen

3 menit baca

Ilustrasi George Cruikshank: konser pertama keempat sahabat membuat para perampok lari ketakutan. Gambar: George Cruikshank · Public domain · sumber

Bertahun-tahun seekor keledai memikul karung gandum ke penggilingan tanpa pernah mengeluh. Namun tenaganya mulai habis, dan tuannya mulai menghitung berapa biaya memberinya makan. Keledai itu cukup peka untuk tahu ke mana arah angin bertiup. Sebelum terlambat, ia kabur dan berjalan menuju kota Bremen.

“Di sana,” pikirnya, “aku pasti bisa menjadi pemusik kota.”

Belum jauh berjalan, ia menemukan seekor anjing pemburu terbaring di jalan dengan napas tersengal. Anjing itu sudah tua dan tak mampu lagi berburu, jadi tuannya hendak membunuhnya, dan ia lari.

“Ikutlah ke Bremen,” kata keledai. “Aku akan memetik kecapi, kau memukul genderang.”

Tak lama kemudian mereka bertemu seekor kucing tua yang duduk di pinggir jalan dengan wajah seperti tiga hari hujan. Giginya sudah tumpul dan ia lebih suka berbaring di dekat tungku daripada mengejar tikus, sehingga nyonya rumah hendak menenggelamkannya. Keledai mengajaknya juga. Bukankah kucing sangat paham musik malam?

Lalu mereka melewati sebuah peternakan. Di atas gerbang seekor ayam jantan berkokok sekeras-kerasnya. Tamu akan datang hari Minggu, dan sore itu lehernya akan dipotong untuk dijadikan sup. Maka ia berkokok sepuas-puasnya selagi masih bisa.

“Ikutlah dengan kami,” kata keledai. “Di mana pun, kau bisa menemukan sesuatu yang lebih baik daripada kematian. Suaramu bagus. Kalau kita bermusik bersama, pasti ada hasilnya.”

Begitulah, empat buronan tua itu berjalan bersama. Tetapi Bremen terlalu jauh untuk dicapai dalam sehari. Malam tiba saat mereka di tengah hutan. Keledai dan anjing berbaring di bawah pohon besar, kucing naik ke dahan, dan ayam terbang ke puncak. Dari atas sana ia melihat setitik cahaya di kejauhan.

Mereka menuju cahaya itu dan sampai di sebuah rumah terang benderang. Keledai, yang paling tinggi, mengintip dari jendela.

“Apa yang kau lihat, Kuda Abu-abu?” tanya ayam.

“Meja penuh makanan dan minuman, dan sekawanan perampok sedang bersantai.”

Keempatnya berunding. Lalu keledai meletakkan kaki depannya di ambang jendela, anjing naik ke punggungnya, kucing memanjat ke atas anjing, dan ayam hinggap di kepala kucing. Pada aba-aba tertentu, konser pertama mereka dimulai. Keledai meringkik, anjing menggonggong, kucing mengeong, ayam berkokok, dan semuanya menerobos masuk lewat jendela. Kaca berhamburan. Para perampok terlonjak, mengira hantu datang, dan lari tunggang langgang ke hutan.

Keempat sahabat itu makan seperti akan berpuasa sebulan. Sesudah itu mereka mematikan lampu dan mencari tempat tidur: keledai di jerami halaman, anjing di balik pintu, kucing di abu hangat tungku, ayam di balok atap.

Lewat tengah malam, kepala perampok menyuruh seorang anak buahnya memeriksa rumah. Orang itu masuk ke dapur yang gelap, mengira mata kucing yang menyala itu bara, dan mendekatkan batang korek untuk menyalakannya. Kucing langsung mencakar wajahnya. Ia lari ke pintu belakang, dan anjing menggigit kakinya. Saat melintasi halaman, keledai menendangnya. Dari atap, ayam berteriak, “Kukuruyuk!”

Dengan napas putus-putus ia melapor kepada kepala perampok.

“Di rumah itu ada penyihir mengerikan yang mencakar wajahku! Di pintu ada orang yang menikam kakiku! Di halaman ada monster hitam yang memukulku dengan gada! Dan di atap duduk seorang hakim yang berteriak, ‘Bawa bajingan itu ke sini!'”

Sejak itu para perampok tak berani lagi pulang. Keempat pemusik itu sangat betah di rumah tersebut, dan mereka tak pernah sampai ke Bremen. Mulut orang yang terakhir menceritakan kisah ini masih hangat.

💖 Pesan Moral

  • Dibuang oleh satu tempat bukan berarti tak berguna. Yang tua dan lelah masih bisa memulai babak baru.
  • Empat kelemahan yang disusun dengan benar bisa menjadi satu kekuatan. Yang menakutkan perampok adalah menara yang mereka bangun bersama.
  • Tujuan boleh berubah di tengah jalan. Mereka tak pernah menjadi pemusik Bremen, dan tak ada yang keberatan.

Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari dongeng Grimm Bersaudara “Die Bremer Stadtmusikanten” (Kinder- und Hausmärchen no. 27).