Serigala dan Bangau
Bangau menjulurkan lehernya ke arah moncong serigala untuk mengambil tulang yang tersangkut. Gambar: Unknown author Unknown author · Public domain · sumber
Serigala itu makan terlalu rakus. Daging di depannya ia telan bersama tulang-tulangnya, tanpa mengunyah dengan benar, sampai sekeping tulang kecil tersangkut di kerongkongannya.
Ia terbatuk, menggeleng-gelengkan kepala, menggaruk leher dengan cakarnya. Tulang itu tak bergeser. Setiap kali menelan, rasa sakit menusuk sampai ke dada. Makan tak bisa, minum pun susah. Serigala yang biasanya ditakuti seluruh hutan itu kini berkeliling sambil mengerang, memohon pertolongan kepada siapa saja yang ditemuinya.
“Tolong aku,” rintihnya. “Siapa yang bisa mengeluarkan tulang ini akan kuberi upah besar. Aku bersumpah.”
Binatang-binatang lain menjauh. Mereka tahu benar siapa yang sedang bicara. Hanya seekor bangau yang berhenti. Paruhnya panjang, lehernya lebih panjang lagi, dan ia terbiasa mencari makan di tempat-tempat sempit.
“Kau sungguh akan membayar?” tanya si bangau hati-hati.
“Apa pun yang kauminta,” jawab serigala dengan suara parau.
Bangau itu menimbang-nimbang. Upah besar tentu menyenangkan, dan pekerjaan ini rasanya tidak akan lama. Akhirnya ia melangkah mendekat.
“Buka mulutmu lebar-lebar.”
Serigala menganga. Dari dekat, taringnya tampak jauh lebih panjang daripada yang dibayangkan si bangau. Ia menarik napas, lalu memasukkan kepalanya ke dalam mulut itu, melewati deretan gigi, terus sampai paruhnya menyentuh tulang di ujung kerongkongan. Dengan sekali jepit dan sekali tarik yang hati-hati, tulang itu terlepas.
Serigala menelan ludah. Rasa sakitnya hilang. Ia menjilat moncongnya, meregangkan badan, lalu berbalik hendak pergi.
“Tunggu,” kata si bangau. “Bagaimana dengan upahku?”
Serigala menoleh perlahan dan menyeringai sampai semua giginya kelihatan.
“Upah? Kepalamu baru saja berada di dalam mulut serigala, dan kau menariknya kembali dengan utuh. Berapa banyak makhluk di hutan ini yang bisa berkata begitu? Pulanglah dan bersyukur. Upahmu sudah lunas.”
Si bangau memandangi taring itu sekali lagi. Ia tidak berkata apa-apa. Ia melipat sayapnya, berbalik, dan pergi dengan langkah yang jauh lebih cepat daripada saat datang.
💖 Pesan Moral
- Janji orang yang sedang kesakitan belum tentu berlaku setelah sembuh. Kenali wataknya sebelum percaya pada sumpahnya.
- Berbuat baiklah karena ingin menolong. Kalau pertolongan diberikan demi imbalan dari orang yang culas, kekecewaan sudah menunggu.
- Tahu kapan harus pergi juga kebijaksanaan. Berdebat soal upah dengan yang bertaring kadang lebih mahal daripada upah itu sendiri.
- Jangan sebut ancaman sebagai kemurahan hati. “Kamu masih selamat” adalah cara lama orang berkuasa menolak membayar kewajibannya.
Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari fabel Aesop “The Wolf and the Crane”. Versi Latin Phaedrus memakai bangau, sedangkan versi Yunani Babrius memakai burung bangau abu-abu (heron).