Hillel dan Berdiri dengan Satu Kaki
Hillel dan lelaki yang berdiri dengan satu kaki, pada relief Menorah Knesset di Yerusalem. Gambar: Gerd Eichmann · CC BY-SA 4.0 · sumber
Pada masa Bait Suci kedua, ada dua guru besar di Yerusalem. Keduanya sama-sama alim, tetapi wataknya bertolak belakang. Shammai dikenal tegas dan cepat naik darah. Hillel dikenal lembut dan sabar, sampai orang-orang menyebutnya dengan kata itu: Hillel yang lembut.
Suatu hari seorang lelaki bukan Yahudi mendatangi Shammai. Rupanya ia punya rencana yang agak nakal. Ia ingin masuk agama Yahudi, tetapi dengan satu syarat.
“Terimalah aku menjadi pemeluk agama ini, asalkan engkau bisa mengajarkan seluruh Taurat kepadaku selama aku berdiri dengan satu kaki.”
Seluruh Taurat. Kitab yang dipelajari para guru itu seumur hidup, yang penafsirannya memenuhi malam-malam mereka, kini diminta dalam waktu orang berdiri dengan satu kaki. Di mata Shammai, permintaan itu adalah penghinaan. Kebetulan ia sedang memegang penggaris tukang bangunan. Dengan alat itu ia mengusir lelaki tersebut dari hadapannya.
Lelaki itu tidak putus asa. Ia berjalan ke rumah Hillel dan mengulangi permintaannya kata demi kata.
Hillel tidak marah dan tidak menertawakannya. Ia juga tidak menjawab bahwa permintaan itu mustahil. Ia menerima lelaki itu, lalu mengucapkan satu kalimat yang kelak dikutip orang selama hampir dua ribu tahun:
“Apa yang engkau benci, jangan lakukan kepada sesamamu. Itulah seluruh Taurat; selebihnya adalah penjelasannya. Pergilah dan pelajarilah.”
Bayangkan lelaki itu, masih dengan satu kaki terangkat. Ia datang untuk menguji, barangkali untuk mengejek. Yang ia dapat adalah jawaban yang singkat, tetapi tidak murah. Sebab kalimat Hillel tidak berhenti pada kata “seluruh Taurat”. Masih ada tiga kata yang menyusul: pergilah dan pelajarilah.
Itu bukan satu-satunya kejadian semacam itu. Talmud mencatat dua orang lagi yang datang dengan permintaan ganjil. Yang seorang hanya mau mempelajari Taurat tertulis. Shammai memarahinya, sedangkan Hillel menerimanya. Pada hari pertama Hillel mengajarkan alef, bet, gimel, dalet. Pada hari berikutnya ia membalik urutan huruf-huruf itu. Ketika orang itu protes, Hillel bertanya bukankah ia selama ini harus percaya pada gurunya? Kalau begitu, percayalah juga pada ajaran lisan.
Yang seorang lagi ingin menjadi imam besar karena tertarik pada pakaiannya yang indah. Sekali lagi Shammai mengusirnya, dan sekali lagi Hillel menerimanya. Ia hanya menyuruhnya belajar lebih dulu, seperti orang yang hendak menjadi raja harus memahami tata cara kerajaan. Saat belajar, orang itu sendiri menemukan bahwa jabatan itu bukan untuknya.
Ketiganya kemudian bertemu. Mereka sepakat bahwa ketegasan Shammai nyaris menjauhkan mereka, sedangkan kelembutan Hillel-lah yang membawa mereka mendekat.
💖 Pesan Moral
- Pertanyaan yang kurang ajar pun bisa dijawab dengan baik. Hillel melihat orang yang bertanya, bukan cara bertanyanya.
- Ajaran terbesar bisa diringkas, tetapi tetap harus dijalani. Satu kalimat cukup untuk memulai, dan seumur hidup untuk mempelajarinya.
- Sabar lebih banyak membuka pintu daripada benar. Shammai tidak salah soal hukum, tetapi Hillel-lah yang didatangi kembali.
Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari Talmud Babilonia, traktat Shabbat 31a.