Gudang Inspirasi Hidup
Humor

Pak Pandir Memancing dengan Rusa

3 menit baca

Rusa jantan, yang menurut Pak Pandir ukurannya wajar untuk umpan. Gambar: Candra Firmansyah · CC BY-SA 4.0 · sumber

Mak Andeh baru saja melahirkan, dan badannya masih lemah. Di rumah tak ada lauk sama sekali. Berhari-hari ia makan nasi saja, dan nasi tanpa lauk mulai terasa seperti pasir di kerongkongan.

Ia memanggil suaminya. “Pak Pandir, pergilah memancing di sungai. Mudah-mudahan dapat ikan untuk lauk. Aku sendiri tak sanggup pergi.”

Pak Pandir mengambil taut, pancing besar yang biasa ditancapkan di tepi sungai. Sebelum berangkat ia bertanya, “Apa umpannya, Andeh?”

“Tangkaplah belalang rusa itu, umpankan pada taut kita.”

“Baiklah, Andeh.”

Belalang rusa adalah sejenis belalang besar. Namun di telinga Pak Pandir, kata pertama seperti hilang ditiup angin, dan yang tinggal hanya kata kedua: rusa. Sebagai suami yang patuh, ia mengambil tali, taut, dan sebilah parang, lalu masuk ke hutan.

Ia berjalan lama sekali, sampai tiba di semak muda. Di sana, seekor rusa jantan yang gemuk sedang tidur nyenyak. Pak Pandir mengendap-endap mendekat. Dengan hati-hati ia mengikat kaki rusa itu dengan tali.

Rusa itu terbangun, melonjak, dan meronta, tetapi terlambat. Tubuhnya sudah terbebat seperti lepat. Pak Pandir menghelanya melewati semak dan batu, tanpa berhenti, sampai ke tepi sungai dekat rumahnya. Di situ ia memasang taut, dan mata kailnya ia kaitkan pada punggung rusa itu. Lalu, dengan usaha yang luar biasa, ia melemparkan umpan sebesar itu ke dalam sungai.

Air bergolak. Pak Pandir mengangguk puas dan berjalan pulang.

“Sudah kupasang, Andeh. Kalau nanti ikan memakannya, kita bisa makan lauk.”

“Baguslah,” kata Mak Andeh.

Tak lama kemudian, dari arah sungai terdengar bunyi menggelegar. Ada yang menghempas dan menjerit keras sekali. Mak Andeh terlonjak di tempat tidurnya.

“Pak Pandir! Bunyi apa itu?”

“Tak tahukah Andeh? Itulah umpan taut yang Andeh suruh pasang.”

“Umpan apa yang sebesar itu suaranya?”

“Kata Andeh tadi, cari rusa. Aku tangkap seekor rusa jantan, kukaitkan matanya di belakangnya, kakinya kuikat.”

Mak Andeh terdiam sebentar. Selama beberapa saat ia tampak seperti sedang menghitung sampai sepuluh.

“Rusakah yang awak buat umpan itu?”

“Ya, rusalah.”

“Pergi ambil! Bawa kemari taut berikut umpannya!”

Pak Pandir pergi ke sungai dan menyeret tautnya sampai ke halaman. “Nah, Andeh, lihatlah.”

Mak Andeh datang ke pintu, melihat seekor rusa jantan yang basah kuyup dengan mata pancing di punggungnya, dan ia memegangi kepalanya.

“Cih, Pak Pandir! Aku suruh cari belalang rusa untuk umpan, buat apa kautangkap rusanya? Kalau sudah dapat rusa, tak perlu lagi memancing! Daging ini bukankah lauk juga?”

Pak Pandir berdiri termangu-mangu. Hal itu belum terpikir olehnya. Ia memandang rusa itu, memandang pancingnya, lalu memandang istrinya, dan perlahan-lahan sebuah kebenaran besar mulai masuk ke dalam kepalanya.

Mak Andeh menghela napas, lalu menyuruhnya mengasah parang. Hari itu, dan berhari-hari sesudahnya, keluarga kecil itu makan daging rusa, sebagian dipanggang dan sebagian disalai. Belum pernah ada orang di hutan itu yang mendapat lauk sebanyak itu dari mencari umpan.

💖 Pesan Moral

  • Dengarkan kalimat sampai selesai. Satu kata yang terlewat bisa mengubah belalang menjadi rusa.
  • Jangan lupakan tujuan karena sibuk dengan caranya. Pak Pandir sudah memegang lauk yang dicari, tetapi ia tetap memancing, karena itulah yang disuruh.
  • Bagi yang menikah dengan orang seperti Pak Pandir: tetaplah lihat sisi baiknya. Kadang kesalahan membawa pulang lauk seminggu.

Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari cerita jenaka Melayu tentang Pak Pandir, yang dibukukan R.O. Winstedt dan A.J. Sturrock dalam Cherita Jenaka (1908).