Gudang Inspirasi Hidup
Humor

Xieng Mieng Mengakali Raja

3 menit baca

Bekas istana kerajaan di Luang Prabang, Laos. Gambar: Christophe95 · CC BY-SA 4.0 · sumber

Raja suatu negeri di Laos sudah lama mendengar nama Xieng Mieng, bekas biksu muda yang lidahnya lebih cepat dari seekor burung. Sang Raja memutuskan untuk mengambilnya sebagai pelayan istana. Ia yakin, kalau orang itu berada di bawah perintahnya, ia bisa memberinya pelajaran. Keyakinan itu ternyata mahal harganya.

Suatu pagi Raja hendak menonton pacuan kuda. Ia naik kuda terbaiknya, sedangkan Xieng Mieng disuruh berjalan kaki di belakang sambil membawa kantong sirih pinang.

Raja memacu kudanya, dan Xieng Mieng jauh tertinggal. Setelah lama menunggu di tempat pacuan, Raja melihatnya datang pelan-pelan sambil menikmati pemandangan.

“Kenapa selama ini?! Lain kali, kalau aku berkuda, kau berlari! Jangan berjalan!”

“Baik, Tuanku.”

Sepulang dari pacuan, Xieng Mieng berlari kencang di belakang kuda. Kantong sirih itu berguncang, terbuka, dan butir-butir pinang berjatuhan di sepanjang jalan. Ia tetap berlari, karena perintahnya berlari. Sesampainya di istana, Raja meminta sirih. Kantong itu hampir kosong.

“Mana pinangnya?!”

“Jatuh di jalan, Tuanku.”

“Bodoh! Mulai sekarang, apa pun yang jatuh, pungut! Paham?”

“Paham, Tuanku. Apa pun yang jatuh.”

Beberapa hari kemudian, Raja berkuda lagi, dan Xieng Mieng berlari di belakangnya membawa kantong sirih. Kuda Raja mengangkat ekornya dan melakukan yang biasa dilakukan kuda setelah makan banyak. Xieng Mieng berhenti, memungut hasilnya dengan teliti, dan memasukkannya ke kantong. Ia mengulanginya di sepanjang perjalanan.

Di pendopo, di depan para menteri, Raja mengulurkan tangan tanpa melihat dan merogoh kantong untuk mengambil sirih. Ia berhenti. Wajahnya berubah. Ia menarik tangannya keluar.

“XIENG MIENG!”

“Hamba hanya menjalankan titah, Tuanku,” kata Xieng Mieng sambil merendahkan kepala. “Apa pun yang jatuh, hamba pungut.”

Tak ada yang bisa dihukum, sebab tak ada perintah yang dilanggar. Raja mencuci tangan lama sekali.

Ia belum kapok. Beberapa waktu kemudian ia mengumumkan hadiah besar bagi siapa saja yang bisa membuatnya masuk ke kolam istana. Semua menteri mencoba merayu, dan semua gagal. Raja berdiri di tepi kolam dengan puas. Xieng Mieng datang paling akhir, dan ia kelihatan sangat rendah hati.

“Hamba tidak berani mencoba, Tuanku. Mustahil ada orang yang bisa memaksa Tuanku masuk ke kolam. Tetapi kalau Tuanku sudah berada di dalamnya, hamba rasa hamba bisa membuat Tuanku keluar.”

Raja tertawa. Mana mungkin! Sekarang ia yang menantang. Ia melangkah masuk ke air sampai sepinggang dan bersedekap.

“Nah, coba keluarkan aku!”

Xieng Mieng tersenyum dan membungkuk dalam-dalam.

“Terima kasih, Tuanku. Hadiahnya boleh diambil sekarang?”

💖 Pesan Moral

  • Perintah yang ceroboh akan dilaksanakan dengan ceroboh pula. Pemimpin perlu mengatakan apa yang benar-benar ia maksud.
  • Kesombongan adalah pintu masuk yang paling mudah bagi tipu daya. Raja masuk ke kolam karena ingin membuktikan bahwa dirinya tidak bisa ditipu.
  • Dan satu lagi: lihat dulu sebelum merogoh kantong.

Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari dua anekdot Xieng Mieng (Xiang Miang), tokoh jenaka dalam tradisi rakyat Laos, yang juga punya padanan di Thailand dalam kisah Sri Thanonchai.